Opini Publik

Idul Fitri dan Momentum Memperkuat Kebersamaan

Palangka Raya – 1 Syawal merupakan tanggal yang ditunggu umat muslim. Pasca menjalani ibadah puasa Ramadhan, pemeluk agama Islam merayakan kemenangan melalui Hari Raya Idul Fitri.

Idul Fitri dapat dipahami sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan suci atau keterbebasan dari segala dosa, kesalahan, kejelekan dan keburukan. Umat muslim dinyatakan berada dalam kesucian atau fitrah.

Ada sejumlah pemaknaan yang bisa diberikan atas hadirnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriyah, tahun ini. Ia tidak hanya menjadi titik kemenangan umat muslim setelah sebulan lamanya memerangi hawa nafsu melalui ibadah puasa dan aneka ibadah lainnya. Lebih dari itu, Idul Fitri dapat pula dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan.

Pertama, Idul Fitri adalah titik bersama bagi seluruh umat dalam merayakan kemenangan setelah menjalani ‘kawah candradimuka’ bulan Ramadhan. Hawa nafsu yang dapat membatalkan puasa dan menggugurkan pahala puasa sekuat tenaga dihindari. Keberhasilan mencapai Idul Fitri adalah titik puncak bersama umat muslim dalam mencapai titik fitrah atau kesucian kembali.

Pemaknaan kebersamaan kedua adalah kebersamaan dalam kehidupan sosial. Ini terlihat ketika masyarakat Indonesia berduyun-duyun rela menempuh perjalanan ratusan bahkan ribuan kilometer untuk kembali ke kampung halaman. Budaya mudik itu pun demi menjaga kebersamaan dengan sanak saudara, handai taulan, dan keluarga yang selama 11 bulan sebelumnya terpisah.

Kebersamaan lain yang dapat dicapai melalui momentum Hari Raya Idul Fitri adalah kebersamaan pasca pelaksanaan pesa demokrasi pemilihan umum. Hubungan silaturahmi yang bisa saja retak akibat perbedaan pilihan akan kembali rekat dengan saling bersalaman dan bermaafan di momen Idul Fitri.

Pun dengan perbedaan metode penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal yang jamak terjadi di Indonesia. Perbedaan itu memang nyata adanya, dan namun kebersamaan dalam menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh dengan penuh semangat dan keikhlasan, serta kebersamaan merayakan kemenangan melalui Idul Fitri menjadi pemersatu setelah perbedaan metode hisab dan rukyatul hilal tersebut.

Kementerian Agama telah merilis tema hari Idul Fitri tahun 1445 H/2024 M yaitu memperkuat kebersamaan dalam menjaga persatuan kesatuan bangsa. Melalui tema tersebut, pemerintah mengajak umat Islam serta umat beragama lain untuk tetap mengedepankan prinsip saling menghargai, toleransi dan persaudaraan untuk memperkuat kebersamaan.

Harapannya, semua pihak menyebarkan pesan damai serta bersabar, menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas, yang menimbulkan keresahan, provokasi di tengah masyarakat.

Kita semua harus mengedepankan prinsip ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), sehingga diharapkan akan tercipta ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Surat Edaran Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi mengedepankan prinsip pelaksanakan ibadah Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri sesuai dengan syariat Islam serta menjunjung tinggi nilai toleransi.

Termasuk syiar seperti takbiran di masjid, musala dan tempat lain dilaksanakan dengan tetap mempedomani Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala serta mengikuti ketentuan pemerintah setempat dan aparat keamanan dengan tetap menjaga ketertiban, menjunjung nilai-nilai toleransi dan menjaga ukhuwah islamiyah.

Demikian juga dengan materi ceramah Ramadan dan khutbah Idul Fitri agar disampaikan dengan menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah, mengutamakan nilai-nilai toleransi, persatuan dan kesatuan bangsa, serta tidak bermuatan politik praktis sesuai dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 09 Tahun 2023 tentang Pedoman Ceramah Keagamaan.

Akhirnya, marilah kita gapai fitrah usai berpuasa menahan semua nafsu selama satu bulan dan ditambah dengan saling memaafkan untuk menggugurkan dosa sesama makhluk.

Dengan begitu, Idul Fitri dapat dimaknai sebagai sebuah harapan agar hati dan pikiran umat muslim diberi keluasan maupun kelimpahruahan untuk membuka pintu maaf dan tetap dalam kebersamaan, persaudaraan, persatuan dan kesatuan.(wartakalteng)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *