KaltengOpini Publik

Kontroversi Patung di Gapura Desa Mekar Mulya: Antara Kesenian dan Sensitivitas Etnis

Palangka Raya – Kepala Desa Mekar Mulya, Erlangga, membenarkan bahwa patung yang menghiasi gapura gerbang desa mereka telah sengaja dirobohkan oleh Pemerintah Desa setempat. Patung itu awalnya didirikan setahun yang lalu sebagai bentuk penghargaan terhadap kesenian lokal, Kuda Lumping dan Warok, atas usulan dari Paguyuban Krido Laras dan Paguyuban Wahyu Manunggal Rahayu.

Namun, kontroversi muncul ketika beberapa etnis atau suku di wilayah tersebut menyampaikan keberatannya terhadap keberadaan patung tersebut. Hal ini menjadi perhatian serius, terutama menjelang Pilkada mendatang, sehingga Pemdes Mekar Mulya memutuskan untuk merobohkan patung tersebut atas arahan dari Kapolda Kalteng dan pemerintah daerah, demi menjaga ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Erlangga menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk mencegah potensi konflik lebih lanjut dan tidak ada permasalahan yang berlarut-larut terkait dengan penghapusan patung tersebut. Meski demikian, kedua paguyuban yang terlibat tetap berkomitmen untuk melestarikan dan mempromosikan kesenian Kuda Lumping dan Warok.

Sebelumnya, keberadaan patung ini sempat menjadi viral di media sosial dan menuai perdebatan di antara masyarakat setempat. Keputusan akhir untuk menghapus patung tersebut mencerminkan upaya Pemdes Mekar Mulya untuk menjaga harmoni sosial di desa mereka, sambil tetap menghormati keberagaman budaya dan kesenian lokal yang kaya.(wk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *