Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo

PALANGKA RAYA – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih menjadi pilihan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum sepenuhnya mereda.

Kebijakan ini diterapkan pada jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKH) di seluruh Kalteng. Namun, pelaksanaan belajar dari rumah tidak sepenuhnya berjalan mulus. Selain persoalan jaringan internet, Dinas Pendidikan Kalteng mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap pemahaman siswa jika PJJ berlangsung terlalu lama.

Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo mengatakan, pemantauan terhadap pelaksanaan pembelajaran dilakukan setiap hari. Dari hasil pemantauan dan komunikasi dengan siswa, sebagian mengaku merindukan pembelajaran tatap muka karena materi dinilai lebih mudah dipahami ketika disampaikan langsung di kelas.

“Setiap hari pemantauan terus dilakukan. Dari penyampaian siswa-siswi, mereka sangat merindukan suasana sekolah. Di sisi lain, mereka menyampaikan bahwa materi selama PJJ kurang mudah diterima dibandingkan pembelajaran tatap muka secara class to class,” ujar Reza Prabowo, Kamis (10/9/2026).

Persoalan lain muncul dari kondisi jaringan internet yang tidak sama di setiap daerah. Dalam pembelajaran hybrid maupun daring, koneksi yang tidak stabil membuat penyampaian materi dapat terputus-putus.

Situasi tersebut menjadi perhatian Disdik karena berpotensi membuat materi pembelajaran tidak terserap secara optimal. Jika berlangsung dalam waktu panjang, kondisi ini dikhawatirkan berpengaruh terhadap capaian akademik siswa atau memicu learning loss.

Reza menyebut, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan proses belajar sehari-hari, tetapi juga kesiapan siswa menghadapi berbagai evaluasi pendidikan, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional (AN).

“Risiko learning loss ini juga menjadi pertimbangan kita. Kita tidak hanya berbicara bagaimana anak-anak tetap belajar, tetapi juga bagaimana capaian pembelajaran mereka tetap terjaga,” katanya.

Untuk menjaga proses belajar tetap berjalan, Pemprov Kalteng memanfaatkan Kelas Digital Huma Betang. Melalui platform tersebut, pembelajaran tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk kelas virtual secara langsung.

Guru dapat mengunggah materi dan tugas, sedangkan siswa dapat mengunduh, mengerjakan, kemudian mengunggah kembali tugas yang diberikan. Kehadiran siswa juga dapat dicatat secara daring ketika pembelajaran virtual dilaksanakan.

“Pembelajaran bisa dilakukan secara online meskipun tidak secara virtual. Tugas bisa diunduh, diunggah, di-submit, dan guru bisa memantau. Ketika kelas virtual berlangsung, absensi juga bisa dilakukan secara online,” jelas Reza.

Meski PJJ diberlakukan secara luas, penerapannya tetap menyesuaikan kondisi udara di masing-masing wilayah. Ketika kualitas udara membaik dan dinilai tidak berisiko bagi kesehatan, sekolah dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.

SMK Negeri 5 Palangka Raya, misalnya, sudah kembali menggelar pembelajaran tatap muka pada Kamis (10/9/2026) setelah kondisi cuaca dan kualitas udara dalam beberapa hari sebelumnya menunjukkan perbaikan.

Namun, kondisi tersebut belum menjadi tanda bahwa seluruh sekolah dapat langsung kembali ke pola pembelajaran normal. Reza mengingatkan kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu karena kabut asap dapat terbawa angin.

“Pelaksanaan PJJ ini akan terus berlanjut sampai kondisi udara membaik dan tidak berisiko bagi kesehatan murid, karena keselamatan adalah yang utama,” tegasnya.

Di tengah situasi tersebut, persoalan pendidikan di Kalteng juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Saat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meninjau sekolah di kawasan Petuk Ketimpun, Palangka Raya, Kamis (10/9/2026), turut dibahas dukungan revitalisasi satuan pendidikan di Kalteng.

Reza mengatakan, Pemprov Kalteng mendapat dukungan revitalisasi sekolah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Bantuan tersebut mencakup sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA dan SMK.

“Pak Gubernur sudah melaporkan bahwa dukungan Kemendikdasmen sangat luar biasa untuk Pemerintah Provinsi. Kita mendapatkan banyak bantuan revitalisasi untuk SMA, SMK, dan Sekolah Khusus,” ungkapnya.

Menurut Reza, perbaikan sarana dan prasarana menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan untuk mendukung kegiatan belajar. Termasuk ketika sejumlah fasilitas sekolah ditemukan mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan melalui program revitalisasi.

Untuk sementara, PJJ masih menjadi pilihan sampai kondisi udara dinilai aman bagi siswa. Di sisi lain, Disdik Kalteng harus memastikan waktu belajar dari rumah tidak membuat siswa kehilangan terlalu banyak materi pembelajaran.

Persoalan kabut asap akhirnya tidak hanya berdampak pada aktivitas di luar ruang, tetapi juga memaksa sekolah mencari pola belajar yang mampu menjaga keselamatan siswa sekaligus mempertahankan capaian pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *