IMG_20261005_075938

Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan. Paparan asap dalam waktu tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan hingga memperburuk penyakit yang sudah diderita sebelumnya.

Dokter Spesialis Paru, dr. Holly Diany, Sp.P, menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung campuran gas berbahaya dan partikel halus, terutama PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan, dalam kondisi tertentu, mencapai aliran darah.

Menurutnya, keluhan yang paling sering muncul pada masyarakat akibat paparan asap adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan hingga demam.

“Paparan asap juga dapat memperburuk kondisi penderita asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Gejalanya bisa berupa sesak napas, napas berbunyi atau mengi, bahkan nyeri dada,” ujar dr. Holly Diany, Senin 5/9/26 melalui aplikasi pesan singkat.

Dampak asap karhutla juga tidak terbatas pada sistem pernapasan. Partikel halus yang masuk ke tubuh dapat memicu proses peradangan dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, terutama pada kelompok masyarakat yang telah memiliki penyakit jantung maupun kelompok usia lanjut.

Selain itu, paparan asap pekat dapat menyebabkan mata merah, perih dan berair. Kulit juga dapat mengalami iritasi, khususnya ketika terpapar langsung dalam waktu lama.

Menghadapi kondisi kualitas udara yang memburuk akibat karhutla, masyarakat diimbau lebih memperhatikan aktivitas sehari-hari. Kegiatan di luar ruangan, termasuk olahraga, sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

Penggunaan masker juga menjadi salah satu perlindungan penting. Masker kain biasa dinilai tidak cukup untuk menyaring partikel halus dari asap. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dapat menggunakan masker seperti N95, KN95 atau KF94.

Sementara di dalam rumah, pintu dan jendela sebaiknya ditutup ketika kabut asap mulai masuk. Jika tersedia, penggunaan penyaring udara dengan filter HEPA dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

dr. Holly Diany juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga asupan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi, termasuk buah serta sayuran. Langkah tersebut dapat membantu menjaga kondisi tubuh selama menghadapi paparan asap.

Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada anak-anak, lansia dan ibu hamil yang termasuk kelompok rentan terhadap dampak polusi udara. Pada anak-anak, khususnya, sistem pernapasan masih berkembang sehingga paparan asap dapat memberikan dampak yang lebih besar.

Di lingkungan sekolah, kegiatan luar ruangan seperti upacara dan olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara. Jika kabut asap sudah berada pada tingkat yang membahayakan, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi dan kebijakan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi setempat.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, termasuk dalam skala kecil di sekitar rumah. Asap dari pembakaran tersebut tetap berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara di tengah situasi karhutla.

Apabila mengalami batuk yang menetap, sesak napas, nyeri dada, atau iritasi mata yang tidak kunjung membaik, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

“Jangan menunggu kondisi menjadi berat. Kalau sudah muncul keluhan seperti sesak napas, nyeri dada atau batuk yang terus-menerus, segera datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan,” pungkasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *