IMG-20261005-WA0496

PALANGKA RAYA – Kursi Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) baru saja berganti. Prof. Dr. Bhayu Rhama, ST., MT., Ph.D., resmi dilantik sebagai Rektor UPR periode 2026–2030 di Gedung D Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jakarta, Senin (5/10/2026).

Namun, agenda pertama yang disiapkan Prof Bhayu bukan langsung berbicara soal program besar. Ia justru ingin membereskan persoalan yang paling dekat dengan aktivitas mahasiswa sehari-hari.

Listrik, pendingin ruangan hingga kondisi ruang kelas masuk dalam daftar pekerjaan awal yang akan dikejar dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.

Bagi Prof Bhayu, fasilitas dasar bukan sekadar urusan sarana kampus. Kondisi ruang belajar ikut menentukan kenyamanan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan pada akhirnya menjadi bagian dari fondasi kualitas pendidikan.

“100 hari pertama ini permasalahan dasar itu akan menjadi prioritas kita,” kata Prof Bhayu usai pelantikan.

Ia ingin standar ruang kelas di UPR dapat dipenuhi sehingga mahasiswa dan dosen tidak harus berhadapan dengan persoalan fasilitas ketika proses pembelajaran berlangsung.

“Semua standar kelas itu saya harapkan bisa terpenuhi, sehingga mahasiswa bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya.

Sebelum masuk ke agenda pembenahan tersebut, Prof Bhayu juga menempatkan harmonisasi internal sebagai langkah pertama. Ia ingin seluruh unsur kampus bergerak dalam arah yang sama, bukan berjalan dengan agenda masing-masing.

Ia berencana segera kembali ke Palangka Raya untuk merangkul berbagai pihak di lingkungan UPR.

“Yang pertama, kita segera kembali ke Palangka Raya untuk mengharmonisasikan dan merangkul semua pihak, supaya kita semua bisa berjalan menjadi satu demi UPR yang kita cintai ini,” katanya.

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah kabut asap yang masih berdampak terhadap aktivitas masyarakat di Palangka Raya. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi agar kegiatan akademik di kampus tetap berjalan.

“Karena ini masih kabut asap, kita berusaha maksimal, seoptimal mungkin,” tegasnya.

Di sisi lain, mantan Wakil Rektor Bidang Akademik UPR periode 2022–2026, Dr. Natalina Asi, MA., berharap kepemimpinan baru tidak berhenti pada pergantian figur. Capaian yang sudah dibangun sebelumnya diharapkan tetap dilanjutkan dan ditingkatkan.

Menurutnya, kualitas pendidikan dan lulusan menjadi pekerjaan penting yang harus terus diperkuat.

“UPR itu perlu ditingkatkan, sehingga lulusan UPR bisa dibanggakan, berarti secara kualitas juga harus ditingkatkan,” ujar Natalina.

Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan baru membutuhkan proses untuk membaca kondisi internal kampus sebelum menentukan langkah strategis berikutnya.

Dengan begitu, 100 hari pertama Prof Bhayu akan menjadi fase penting untuk melihat apakah pembenahan persoalan dasar kampus benar-benar bisa bergerak dari janji menjadi perubahan yang dirasakan langsung oleh mahasiswa dan sivitas akademika UPR.

Narasi ini disusun berdasarkan laporan Ini Kalteng dan diperkuat dengan laporan ANTARA Kalteng mengenai pelantikan serta prioritas awal Prof. Bhayu.

PALANGKA RAYA – Kursi Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) baru saja berganti. Prof. Dr. Bhayu Rhama, ST., MT., Ph.D., resmi dilantik sebagai Rektor UPR periode 2026–2030 di Gedung D Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jakarta, Senin (5/10/2026).

Namun, agenda pertama yang disiapkan Prof Bhayu bukan langsung berbicara soal program besar. Ia justru ingin membereskan persoalan yang paling dekat dengan aktivitas mahasiswa sehari-hari.

Listrik, pendingin ruangan hingga kondisi ruang kelas masuk dalam daftar pekerjaan awal yang akan dikejar dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.

Bagi Prof Bhayu, fasilitas dasar bukan sekadar urusan sarana kampus. Kondisi ruang belajar ikut menentukan kenyamanan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan pada akhirnya menjadi bagian dari fondasi kualitas pendidikan.

“100 hari pertama ini permasalahan dasar itu akan menjadi prioritas kita,” kata Prof Bhayu usai pelantikan.

Ia ingin standar ruang kelas di UPR dapat dipenuhi sehingga mahasiswa dan dosen tidak harus berhadapan dengan persoalan fasilitas ketika proses pembelajaran berlangsung.

“Semua standar kelas itu saya harapkan bisa terpenuhi, sehingga mahasiswa bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya.

Sebelum masuk ke agenda pembenahan tersebut, Prof Bhayu juga menempatkan harmonisasi internal sebagai langkah pertama. Ia ingin seluruh unsur kampus bergerak dalam arah yang sama, bukan berjalan dengan agenda masing-masing.

Ia berencana segera kembali ke Palangka Raya untuk merangkul berbagai pihak di lingkungan UPR.

“Yang pertama, kita segera kembali ke Palangka Raya untuk mengharmonisasikan dan merangkul semua pihak, supaya kita semua bisa berjalan menjadi satu demi UPR yang kita cintai ini,” katanya.

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah kabut asap yang masih berdampak terhadap aktivitas masyarakat di Palangka Raya. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi agar kegiatan akademik di kampus tetap berjalan.

“Karena ini masih kabut asap, kita berusaha maksimal, seoptimal mungkin,” tegasnya.

Di sisi lain, mantan Wakil Rektor Bidang Akademik UPR periode 2022–2026, Dr. Natalina Asi, MA., berharap kepemimpinan baru tidak berhenti pada pergantian figur. Capaian yang sudah dibangun sebelumnya diharapkan tetap dilanjutkan dan ditingkatkan.

Menurutnya, kualitas pendidikan dan lulusan menjadi pekerjaan penting yang harus terus diperkuat.

“UPR itu perlu ditingkatkan, sehingga lulusan UPR bisa dibanggakan, berarti secara kualitas juga harus ditingkatkan,” ujar Natalina.

Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan baru membutuhkan proses untuk membaca kondisi internal kampus sebelum menentukan langkah strategis berikutnya.

Dengan begitu, 100 hari pertama Prof Bhayu akan menjadi fase penting untuk melihat apakah pembenahan persoalan dasar kampus benar-benar bisa bergerak dari janji menjadi perubahan yang dirasakan langsung oleh mahasiswa dan sivitas akademika UPR.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *