Ironis, Asap Karhutla Justru Hambat Pesawat OMC Terbang di Kalteng

PALANGKA RAYA – Upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menghadapi persoalan lain. Kabut asap yang semakin pekat justru membuat pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak leluasa menjalankan tugasnya.

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengatakan kondisi jarak pandang menjadi kendala utama bagi penerbangan OMC. Pesawat membutuhkan jarak pandang sekitar 5 kilometer agar dapat terbang dengan memenuhi persyaratan keselamatan.

“Pesawatnya tidak bisa terbang, kan dia membutuhkan sekitar 5.000 meter jarak pandang untuk terbang,” kata Agustiar, Sabtu (19/9/2026).

Kondisi tersebut membuat penanganan dari udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Padahal, OMC menjadi salah satu upaya yang disiapkan pemerintah untuk membantu pembasahan wilayah dan mengendalikan karhutla.

Persoalannya bukan hanya OMC. Operasi water bombing dan patroli udara juga ikut terdampak ketika asap membuat jarak pandang berada di bawah batas aman penerbangan. BNPB bahkan menegaskan penanganan karhutla dalam kondisi seperti ini tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan udara.

Karena itu, pemadaman dari darat terus diperkuat. Pemerintah juga menyiagakan lima armada water bombing serta melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan BNPB untuk memperkuat penanganan di wilayah yang masih terdapat kebakaran. Selain itu, sekitar dua juta liter air bersih disalurkan bagi masyarakat yang terdampak kondisi karhutla dan kekeringan.

Kabut asap pada periode tersebut memang cukup pekat. Data Kementerian Kehutanan mencatat pada 19 September terdapat 1.035 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalteng. Jarak pandang di Palangka Raya juga sempat turun hingga sekitar 350 meter pada pagi hari.

Dampaknya terasa hingga sektor penerbangan sipil. Sehari setelahnya, visibilitas di Bandara Tjilik Riwut bahkan sempat turun menjadi 600 meter dan menyebabkan 14 jadwal penerbangan terdampak penundaan.

Di tengah kondisi itu, pemerintah harus membagi strategi penanganan antara operasi darat dan udara. Ketika asap terlalu pekat untuk penerbangan, personel di lapangan menjadi tumpuan utama untuk melakukan pemadaman dan pendinginan.

Situasi ini memperlihatkan rumitnya penanganan karhutla di lahan gambut. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan persoalan telah selesai. Bara di bawah permukaan gambut masih dapat bertahan dan kembali memunculkan asap maupun titik api.

Pada akhirnya, keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada tersedianya pesawat, helikopter atau armada pemadam. Kondisi cuaca, arah angin, potensi hujan dan jarak pandang ikut menentukan apakah operasi udara bisa berjalan atau harus ditunda.

Sementara itu, pemadaman darat terus menjadi pilihan utama ketika kondisi udara belum memungkinkan bagi armada penanganan karhutla untuk beroperasi secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *