WhatsApp Image 2026-01-05 at 20.03.55

Sampit – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Irawati, mengungkapkan adanya dua pelajar sekolah dasar (SD) di wilayah perkotaan Kotim yang terindikasi terpapar paham radikalisme. Paparan tersebut diduga berawal dari aktivitas anak-anak tersebut dalam game online.

“Baru-baru ini saya menerima kunjungan dari Densus 88 Antiteror Polri, karena terindikasi ada dua anak di wilayah kita yang tergabung dalam grup WhatsApp dengan paham radikalisme,” ujar Irawati di Sampit, Senin.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan Densus 88 saat melakukan kunjungan kerja ke Kotim dalam rangka pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) belum lama ini. Densus 88 juga menyebutkan bahwa pemantauan terhadap aplikasi dan aktivitas digital mencurigakan kini dilakukan secara nasional.

Khusus di Kalimantan Tengah, Kotim menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian serius menyusul temuan indikasi penyebaran paham radikalisme melalui dunia digital.

Temuan ini menjadi peringatan keras bagi orang tua terkait bahaya penggunaan gawai tanpa pengawasan ketat. Irawati mencontohkan kasus yang sempat menggemparkan nasional, yakni seorang siswi SD di Medan, Sumatera Utara, yang tega menikam ibu kandungnya hingga meninggal dunia, diduga dipicu emosi akibat aplikasi game online miliknya dihapus.

Berdasarkan keterangan Densus 88, pola rekrutmen kelompok radikal kini banyak menyasar anak-anak melalui platform digital yang dekat dengan keseharian mereka, termasuk game online populer seperti Roblox.

“Mereka merekrut melalui game online yang mengandung unsur kekerasan. Setelah itu anak-anak diarahkan masuk ke grup WhatsApp. Di sana ditanamkan kebencian, bahkan diajarkan cara membunuh, terutama jika merasa dirundung atau dibully,” jelas Irawati.

Lebih memprihatinkan, lanjutnya, paham radikalisme tersebut kerap dikemas dengan narasi keagamaan. Anak-anak diposisikan sebagai calon ‘pengantin’, istilah yang merujuk pada pelaku bom bunuh diri, dengan doktrin mati syahid yang ditanamkan sejak usia dini.

Densus 88 juga mengungkapkan bahwa anak-anak berusia 5 hingga 15 tahun menjadi sasaran empuk karena kondisi emosi yang masih labil dan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun demikian, paparan paham radikalisme tidak hanya menyasar anak-anak.

“Selain dua pelajar SD, berdasarkan keterangan Densus 88, ada juga ASN di Kotim yang terpantau tergabung dalam kelompok berpaham radikal tersebut. Ini tentu menjadi perhatian serius kami,” ujar Irawati.

Menindaklanjuti temuan itu, Pemerintah Kabupaten Kotim bergerak cepat dengan melakukan langkah pembinaan intensif. Dua pelajar tersebut kini berada di bawah pengawasan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kotim.

Sebelumnya, tim Densus 88 juga telah mendatangi kediaman anak-anak dan ASN yang terindikasi terpapar radikalisme. Pihak keluarga diberikan pemahaman mengenai bahaya paham tersebut serta langkah-langkah pencegahannya.

“Pemantauan akan dilakukan secara berkala. Syukurnya, kasus di Kotim masih bisa dikendalikan dan diberikan pembinaan,” imbuhnya.

Ke depan, Irawati mengaku akan mengusulkan kepada Bupati Kotim untuk menerbitkan Instruksi Bupati terkait pembatasan penggunaan gawai bagi anak usia sekolah, dengan mencontoh kebijakan serupa yang telah diterapkan di Kota Surabaya.

Ia menegaskan, peran orang tua dan keluarga sangat penting dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak agar terhindar dari paparan radikalisme dan konten negatif lainnya.

“Jangan karena ingin anak diam di rumah, lalu orang tua membebaskan penggunaan gadget tanpa pengawasan. Itu justru berbahaya. Lebih baik anak diarahkan ke kegiatan positif seperti les atau ekstrakurikuler,” tegasnya.

Selain itu, Pemkab Kotim juga merencanakan kegiatan penyuluhan bersama instansi terkait dengan melibatkan Densus 88 sebagai narasumber. Penyuluhan ini akan menyasar sekolah-sekolah, instansi pemerintahan, hingga sektor swasta.

“Berkaca pada tragedi di Medan, kita berharap kejadian serupa tidak pernah terjadi di Kotim,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *