IMG-20260517-WA0401

Palangka Raya – Di tengah riuh Karnaval Festival Isen Mulang 2026 pada Minggu 17/5/26 pagi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah tidak sekadar menghadirkan mobil hias. Mereka meluncurkan sebuah karya visual bergerak yang menyerupai altar budaya megah, hidup, dan sarat makna.

Namanya KAPAL BANAWA SAMAUO, Sebuah instalasi bergerak yang membawa ingatan kolektif masyarakat Dayak melintasi ruang modern. Tubuh kapal raksasa itu tampil seperti artefak yang bangkit dari kisah leluhur. Di atasnya berdiri Mihing alat tangkap ikan tradisional masyarakat Dayak yang bukan hanya simbol ekonomi sungai, tetapi juga pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi. Perpaduan Banawa Samauo dan Mihing menjadikan mobil hias ini seperti narasi tentang bagaimana masyarakat Kalimantan Tengah membaca alam, menjaga keseimbangan, dan bertahan dalam arus zaman.

Bukan tanpa alasan Disbudpar memilih Banawa Samauo sebagai ruh utama karya. Dalam kosmologi Dayak Maanyan, Banawa Samauo dikenal sebagai perahu legendaris yang digunakan pasukan Pangunraun mengarungi lautan luas. Kini, simbol itu dihidupkan kembali sebagai metafora perjalanan budaya Kalimantan Tengah menuju masa depan.

Instalasi bergerak ini sekaligus menjadi representasi utuh dari kerja besar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang bergerak melalui berbagai lini—kebudayaan, kesenian, sejarah, tradisi, warisan budaya, hingga pengembangan pariwisata berbasis identitas lokal.

Di balik kemegahan visual tersebut, terdapat dua pilar penting yang menjadi fondasi penguatan budaya daerah, yakni UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah sebagai ruang laboratorium seni pertunjukan dan UPT Museum Balanga sebagai pusat edukasi sejarah serta cagar budaya.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, dr. Seniriaty, MM.Kes menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar kendaraan parade, melainkan medium diplomasi budaya.

“Banawa Samauo adalah cara kami membawa memori leluhur ke ruang publik modern. Budaya tidak boleh hanya disimpan di museum atau panggung seremonial, tetapi harus hadir, bergerak, dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar dr. Seniriaty.

Iringan musik etnik modern yang menyatu dengan langkah para Putra Putri Duta Budaya Kalimantan Tengah membuat Banawa Samauo terasa seperti kapal peradaban yang sedang berlayar di tengah kota. Ia tidak hanya tampil untuk dilihat, tetapi untuk dihayati.

Di bawah semangat Isen Mulang dan filosofi Huma Betang, Banawa Samauo menjadi penanda bahwa budaya Kalimantan Tengah tidak sedang berjalan mundur menuju nostalgia, melainkan bergerak maju membawa identitasnya sendiri.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *