IMG_6874

Palangka Raya – Mentari pagi belum sepenuhnya meninggi ketika ribuan warga mulai memadati kawasan Bundaran Talawang, Kota Palangka Raya, Minggu (17/5/2026). Di bawah langit cerah ibu kota Kalimantan Tengah, masyarakat berdiri berjejer di sepanjang ruas jalan, menanti satu per satu iring-iringan Karnaval Budaya Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 melintas di hadapan mereka.

Suasana berubah meriah saat denting musik tradisional Dayak mulai terdengar. Sorak penonton pecah ketika mobil-mobil hias dengan aneka ornamen budaya memasuki area karnaval. Warna-warni ukiran khas Dayak, replika burung enggang, rumah betang, hingga gambaran kehidupan masyarakat bantaran sungai tampil megah menghiasi kendaraan peserta.

Bukan sekadar pawai, FBIM 2026 menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperlihatkan wajah Kalimantan Tengah dari berbagai penjuru daerah. Peserta dari organisasi perangkat daerah (OPD), instansi pemerintah, hingga perwakilan 13 kabupaten dan 1 kota tampil membawa identitas serta kearifan lokal masing-masing.

Di tengah keramaian, tarian tradisional dengan balutan busana adat Dayak sukses mencuri perhatian masyarakat. Gerakan para penari yang lincah berpadu dengan tabuhan musik khas menghadirkan nuansa yang membuat penonton larut dalam semangat budaya Bumi Tambun Bungai.

Bagi warga Palangka Raya, momen tahunan ini selalu dinanti. Salah satunya Chandra, yang sejak pagi telah berada di lokasi untuk menyaksikan jalannya karnaval budaya.

“Kalau saya lihat sangat antusias sekali, baik peserta karnaval maupun penontonnya. Kita senang karena ini event Provinsi Kalimantan Tengah yang hanya ada satu kali dalam setahun,” ujarnya.

Menurutnya, FBIM bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan terhadap keberagaman budaya Kalimantan Tengah yang tetap terjaga hingga kini.

Ia pun berharap, di usia ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah, daerah ini semakin maju dan berkembang tanpa meninggalkan identitas budayanya.

“Selamat ulang tahun untuk Provinsi Kalimantan Tengah ke-69. Semoga Kalimantan Tengah semakin maju, semakin berkah, dan tentunya semakin keren,” katanya.

Di sepanjang jalur karnaval, masyarakat tampak tak henti mengabadikan momen menggunakan telepon genggam mereka. Anak-anak duduk di pundak orang tua, sementara para lansia tetap bertahan di tepi jalan demi menikmati kemeriahan budaya yang hanya hadir setahun sekali itu.

FBIM 2026 kembali membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang terus menghidupkan semangat kebersamaan masyarakat Kalimantan Tengah. Di tengah arus modernisasi, karnaval budaya itu menjadi pengingat bahwa identitas daerah tetap berdiri kuat dalam kebanggaan warganya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *