PALANGKA RAYA – Belum tersedianya penerbangan komersial reguler yang menghubungkan Palangka Raya dengan Sampit hingga awal 2026 kembali menjadi sorotan publik. Isu ini mencuat seiring beredarnya perbincangan di media sosial yang mempertanyakan mengapa konektivitas antarkota di Kalimantan Tengah tersebut masih harus mengandalkan jalur darat.
Menanggapi hal itu, pengelola Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya menyatakan memahami aspirasi masyarakat maupun pelaku usaha yang menginginkan dibukanya kembali rute penerbangan Palangka Raya–Sampit, termasuk konektivitas lanjutan menuju Pangkalan Bun.
General Manager Angkasa Pura I Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan jarak udara yang relatif dekat menjadikan rute tersebut memiliki potensi besar dalam mendukung mobilitas masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Jarak udara yang dekat membuat rute ini sangat potensial untuk mempercepat waktu tempuh masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” ujarnya melalui aplikasi pesan singkat, Sabtu (10/1/26).
Ia menjelaskan, hingga saat ini pihak bandara terus melakukan koordinasi dengan maskapai penerbangan dan regulator guna mengkaji kelayakan operasional rute Palangka Raya–Sampit–Pangkalan Bun.
“Kajian tersebut meliputi sejumlah aspek penting, seperti permintaan pasar, ketersediaan armada, efisiensi operasional, serta pemenuhan standar keselamatan dan regulasi penerbangan sesuai ketentuan Kementerian Perhubungan,” tambahnya.
Menurutnya, pembukaan rute penerbangan tidak hanya mempertimbangkan jarak tempuh, tetapi juga keberlanjutan layanan agar maskapai dapat beroperasi secara efisien dan konsisten dalam jangka panjang.
Ia juga mengungkapkan bahwa rute Palangka Raya–Sampit sejatinya bukan rute baru. Sebelum pandemi Covid-19, jalur tersebut sempat dilayani penerbangan menggunakan pesawat jenis ATR-72.
“Namun pandemi memberikan dampak signifikan terhadap industri penerbangan nasional, sehingga layanan tersebut terhenti dan hingga kini belum kembali beroperasi,” jelasnya.
Akibat belum tersedianya penerbangan, masyarakat masih mengandalkan jalur darat dengan waktu tempuh sekitar tiga hingga lima jam. Kondisi ini, kata dia, menjadi bahan evaluasi bersama agar ke depan, apabila rute kembali dibuka, dapat berjalan secara berkelanjutan dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, pengelola Bandara Tjilik Riwut menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan bandara, baik dari sisi fasilitas, keselamatan, maupun kenyamanan penumpang. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapan apabila rute-rute baru, termasuk Palangka Raya–Sampit–Pangkalan Bun, kembali dioperasikan.
“Kami mengapresiasi masukan dan dukungan masyarakat. Aspirasi ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus memperjuangkan konektivitas udara yang lebih baik di Kalimantan Tengah,” pungkasnya.(Red)