Palangka Raya – Senja perlahan turun di halaman Istana Isen Mulang, Rumah Jabatan Gubernur Kalimantan Tengah. Langit yang temaram berpadu dengan balutan busana muslim dan muslimah para tamu undangan yang hadir dalam Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama 1447 H / 2026 M, Senin (23/2/2026). Suasana terasa khidmat, namun hangat sehangat semangat kebersamaan yang ingin dirajut Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Sejak pukul 16.00 WIB, satu per satu undangan berdatangan. Hadir Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, didampingi Wakil Gubernur Edi Pratowo dan Plt. Sekretaris Daerah Leonard S. Ampung. Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan instansi vertikal, tokoh agama, tokoh adat, akademisi, hingga tokoh masyarakat turut memenuhi undangan. Ramadan sore itu menjadi ruang temu lintas elemen pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam satu hamparan nilai yang sama: silaturahmi.
Dalam sambutannya, Agustiar Sabran tidak sekadar berbicara tentang puasa sebagai ibadah personal. Ia mengajak hadirin melihat Ramadan sebagai momentum strategis pembangunan. “Semakin banyak ketemu, semakin baik buat kita. Kalau kita silaturahmi tentunya pasti ada solusinya,” ujarnya, menekankan pentingnya ruang dialog untuk memecahkan persoalan daerah.
Baginya, falsafah Huma Betang bukan hanya warisan budaya, melainkan fondasi sosial. Hidup membaur dalam satu “betang”, rukun dan guyub, menjadi kunci membangun Kalimantan Tengah yang ia cita-citakan sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan.
Suasana yang awalnya formal mendadak cair ketika Gubernur melontarkan pantun segar yang disambut riuh tawa hadirin. Di sela canda, terselip pesan persatuan kepada unsur Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat agar terus bersinergi membangun Bumi Tambun Bungai.

Ramadan tak lengkap tanpa berbagi. Sebagai wujud kepedulian, Gubernur menyerahkan santunan dan paket sembako secara simbolis kepada perwakilan panti asuhan di Kalteng. Anak-anak yatim yang hadir sore itu menjadi pengingat bahwa keberkahan pembangunan harus menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Momen haru juga tercipta ketika penceramah kondang asal Kalimantan Selatan, Hasanuddin Al-Banjari atau yang akrab disapa UAS Banjar, menyerahkan cenderamata berupa karya seni foto siluet berbahan daun jati kepada Gubernur. Cendera mata itu bukan sekadar bingkisan, melainkan simbol kedekatan ulama dan umara dua pilar yang saling menguatkan dalam perjalanan daerah.


Menjelang azan magrib pukul 17.46 WIB, tausiah Ramadan menggema lembut di ruang pertemuan. Dengan gaya khasnya yang interaktif dan sarat pantun, UAS Banjar mengawali ceramah dengan doa: “Kalteng berkah, Kalteng maju, Kalteng sejahtera.” Hadirin mengamini, sebagian tersenyum, sebagian lagi terdiam khusyuk.
Sore itu, buka puasa bersama bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma ruang refleksi, tempat gagasan pembangunan bertemu doa, dan kebijakan bertemu nilai-nilai spiritual. Di tengah kebersamaan yang terjalin, tersimpan harapan bahwa silaturahmi yang terawat akan melahirkan kolaborasi yang kuat.

Dari Istana Isen Mulang, pesan itu mengalir: membangun Kalimantan Tengah bukan hanya soal program dan angka, tetapi tentang merawat persaudaraan, memperkuat sinergi, dan menjemput keberkahan bersama.(red/poto: Hairul)