WhatsApp Image 2026-01-12 at 11.57.34

Palangka Raya – Peristiwa Isra Mi’raj menjadi salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Islam. Bukan sekadar perjalanan fisik, Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual yang sarat makna, yang menghubungkan langit dan bumi, serta meneguhkan hubungan hamba dengan Tuhannya.

Peristiwa luar biasa ini terjadi dalam satu malam, ketika Nabi Muhammad ﷺ diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Perjalanan yang dikenal sebagai Isra tersebut ditempuh dengan kendaraan istimewa bernama Buraq, ditemani Malaikat Jibril. Dalam waktu yang sangat singkat, Nabi Muhammad ﷺ menempuh jarak yang pada masa itu nyaris mustahil dijangkau manusia.

Namun perjalanan agung itu tidak berhenti di Masjidil Aqsa. Dari sanalah Nabi Muhammad ﷺ melanjutkan perjalanan Mi’raj, naik menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Di tempat yang mulia itu, Nabi Muhammad ﷺ menerima langsung perintah salat dari Allah SWT, sebuah ibadah yang kelak menjadi tiang agama bagi umat Islam.

Dalam riwayat disebutkan, perintah salat awalnya berjumlah 50 kali sehari. Atas kasih sayang Allah dan melalui dialog Nabi Muhammad ﷺ dengan Nabi Musa, kewajiban tersebut diringankan menjadi lima waktu, namun dengan pahala yang tetap setara dengan lima puluh salat. Dari sinilah salat lima waktu menjadi kewajiban utama umat Islam hingga hari ini.

Isra Mi’raj terjadi pada masa yang tidak mudah bagi Nabi Muhammad ﷺ. Saat itu, beliau baru saja menghadapi berbagai cobaan berat, termasuk wafatnya orang-orang terdekat dan penolakan dari kaumnya. Peristiwa ini menjadi penghibur sekaligus penguat, bahwa di balik kesulitan selalu ada pertolongan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Lebih dari sekadar peristiwa historis, Isra Mi’raj menyimpan pesan mendalam bagi umat Islam. Salat bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Penciptanya. Setiap gerakan dan doa di dalamnya adalah pengingat akan perjalanan spiritual Nabi Muhammad ﷺ yang mengajarkan keteguhan iman, kesabaran, dan kepatuhan.

Hingga kini, Isra Mi’raj diperingati setiap 27 Rajab sebagai momentum refleksi. Bukan hanya untuk mengenang peristiwa besar, tetapi juga untuk kembali meneguhkan komitmen dalam menjaga salat dan memperbaiki kualitas keimanan di tengah tantangan zaman.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *