WhatsApp Image 2026-02-15 at 14.39.21

Palangka Raya — Pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Palangka Raya menjadi momentum konsolidasi internal organisasi mahasiswa tersebut di tingkat Kalimantan Tengah. Agenda ini tidak hanya menandai pergantian kepengurusan, tetapi juga memuat evaluasi terbuka terhadap dinamika organisasi pascapandemi serta arah strategis ke depan. Kegiatan ini pada 13/2/26 bertempat di Aula Rujab Walikota Palangka Raya.

Dalam forum tersebut, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI Kalimantan Tengah memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi organisasi dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim kampus setelah pandemi Covid-19 disebut berdampak signifikan terhadap aktivitas kemahasiswaan, termasuk penurunan kuantitas kader, melemahnya struktur Dewan Pimpinan Komisariat (DPK), serta meningkatnya friksi internal.

Kepengurusan periode sebelumnya di bawah Bung Pebri disebut menjalankan organisasi dalam situasi yang tidak ideal. Selain persoalan kaderisasi, muncul pula dinamika perbedaan pandangan yang diwarnai kritik terbuka di ruang publik digital. Dalam sambutannya, jajaran DPD menekankan pentingnya mengembalikan mekanisme perbedaan pendapat ke forum resmi organisasi sesuai konstitusi internal.

Empat Agenda Prioritas

DPD GMNI Kalteng merumuskan empat agenda utama yang akan menjadi kerangka kerja periode berjalan, yakni rekonsolidasi organisasi, restorasi gerakan, penguatan kaderisasi, dan pendalaman ideologi.

Pada aspek rekonsolidasi, DPC Palangka Raya diposisikan sebagai pusat gravitasi gerakan GMNI di Kalimantan Tengah. Struktur cabang diminta memperkuat DPK yang aktif, menghidupkan kembali yang vakum, serta memperluas basis kader melalui pendekatan ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HIMA), dan komunitas mahasiswa lainnya.

Agenda kedua, restorasi gerakan, diarahkan pada penajaman kembali garis ideologis organisasi. Dalam forum tersebut, sejumlah referensi historis disinggung, mulai dari gagasan demokrasi musyawarah yang pernah disampaikan Soekarno, hingga dinamika demokrasi modern yang dipengaruhi tradisi Barat sejak Revolusi Prancis. Pemikiran ekonomi politik Adam Smith dan kritik terhadap kapitalisme oleh Karl Marx turut disebut sebagai bagian dari kerangka analisis yang perlu dipahami kader.

Sementara itu, penguatan kaderisasi difokuskan pada pelaksanaan PPAB (Pekan Penerimaan Anggota Baru) yang lebih substantif. DPD menekankan bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan harus menghasilkan anggota dengan kemampuan analitis dan sikap keberpihakan sosial yang jelas.

Adapun agenda terakhir adalah pendalaman marhaenisme sebagai ideologi dasar GMNI. Forum-forum diskusi dan pengkajian disebut akan diaktifkan kembali guna memperkuat pemahaman kader terhadap konsep tersebut, termasuk dalam membaca realitas sosial dan ekonomi Indonesia.

Seruan Soliditas Internal

Selain memaparkan agenda kerja, pimpinan DPD juga menyoroti pentingnya soliditas organisasi di tengah dinamika politik kampus. Fragmentasi internal dinilai berpotensi melemahkan daya gerak organisasi jika tidak dikelola melalui mekanisme konstitusional.

Pelantikan DPC GMNI Palangka Raya ditutup dengan penegasan komitmen untuk memperkuat basis organisasi di tingkat daerah. Dengan struktur yang diklaim lebih siap dan agenda yang telah dirumuskan, GMNI Kalteng menargetkan peningkatan kapasitas organisasi sekaligus perluasan pengaruh di lingkungan kampus.

Momentum ini menandai fase konsolidasi yang diharapkan mampu menjawab tantangan internal sekaligus menguatkan posisi GMNI sebagai organisasi kader dan perjuangan di Kalimantan Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *