PALANGKA RAYA-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Palangka Raya memastikan fenomena La Niña lemah yang sebelumnya memengaruhi pola cuaca di Indonesia telah berakhir pada Februari 2026. Saat ini, kondisi iklim global memasuki fase netral, namun terdapat peluang munculnya El Niño pada pertengahan tahun.
Kepala Stasiun BMKG Palangka Raya, Sugiyono, menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik, nilai indeks ENSO tercatat -0,28 atau berada pada fase netral. Sementara itu, kondisi di Samudera Hindia juga menunjukkan Indeks IOD sebesar +0,40 yang menandakan situasi masih netral.
“Fase netral ini diperkirakan berlangsung hingga Juni 2026. Setelah itu, terdapat peluang sekitar 50 hingga 60 persen akan terjadi El Niño dengan kategori lemah hingga moderat,”ucapnya melalui aplikasi pesan singkat, Minggu (29/3/26).
Di sisi lain, perkembangan musim hujan 2025/2026 di Kalimantan Tengah terbilang lebih awal dari biasanya. Seluruh wilayah Kalteng telah memasuki musim hujan, dengan puncak awal terjadi pada Agustus 2025. Bahkan, sebagian kecil wilayah mengalami hujan sepanjang tahun.
“Memasuki musim kemarau 2026, BMKG memprediksi kondisi yang cenderung lebih kering dibandingkan normalnya,” tambahnya.
Dari total 13 Zona Musim (ZOM) di Kalimantan Tengah, sebagian besar wilayah akan memasuki musim kemarau pada Juni 2026, sementara sebagian kecil lainnya sudah lebih dulu pada Mei 2026.
“Jika dibandingkan rerata klimatologi periode 1991–2020, awal musim kemarau tahun ini diprediksi lebih maju di sebagian besar wilayah,”lanjutnya.
BMKG juga memperkirakan sekitar 12 ZOM akan mengalami kondisi bawah normal atau lebih kering dari biasanya, sedangkan satu ZOM lainnya berada pada kondisi normal.
“Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, dengan durasi berkisar antara 10 hingga 12 dasarian di sebagian besar wilayah,” tuturnya.
Seiring dengan kondisi tersebut, BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
“Sebagai langkah antisipasi, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Di sektor pangan, misalnya, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan,” urainya.
Selain itu, pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat melalui revitalisasi waduk dan perbaikan distribusi air. Di sektor lingkungan, pemerintah daerah diminta menyiapkan langkah cepat untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara.
“Informasi ini diharapkan dapat menjadi peringatan dini agar seluruh pemangku kepentingan dapat melakukan langkah antisipatif sejak awal,”ungkapnya.(Red)