Palangka Raya — Di tengah dinamika birokrasi daerah yang semakin kompleks, nama hadir sebagai simbol keteguhan sekaligus harapan baru. Dilantik sebagai Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah pada 1 April 2026, ia menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi strategis tersebut.
Lahir di Banjarmasin pada 17 Juli 1968, Linae bukan sosok yang muncul tiba-tiba di panggung kepemimpinan. Jejak pengabdiannya terbentang panjang, terutama di sektor kesehatan bidang yang membentuk karakter kepemimpinannya, disiplin, responsif, dan berorientasi pelayanan.
Sebelum dipercaya sebagai Pj Sekda, Linae menjabat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Kalteng. Di posisi itu, ia dikenal aktif mendorong program pemberdayaan perempuan dan perlindungan kelompok rentan. Bahkan jauh sebelumnya, ia memimpin Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kalteng sejak 2014 hingga 2021 periode yang memperkuat reputasinya dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan.
Rekam jejak itu bukan sekadar daftar jabatan. Dalam berbagai kesempatan, Linae dikenal sebagai figur yang menekankan pentingnya pelayanan prima dalam birokrasi. Baginya, aparatur pemerintah bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi juga wajah negara di mata masyarakat.
“Pelayanan publik harus dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” menjadi prinsip yang kerap ia gaungkan dalam lingkup kerja.
Komitmennya di bidang kesehatan juga diakui secara lebih luas. Ia pernah masuk dalam daftar 100 Best Doctor versi Asia Campus, sebuah pengakuan yang mencerminkan dedikasinya dalam dunia medis dan manajemen kesehatan. Selain itu, kiprahnya di organisasi profesi seperti Asosiasi Bapelkes Indonesia (ABI) turut memperkaya perspektifnya dalam tata kelola pelatihan dan kebijakan kesehatan nasional.
Kini, sebagai Pj Sekda, tantangan yang dihadapi Linae jauh lebih luas. Ia tidak hanya mengurusi satu sektor, melainkan menjadi motor penggerak koordinasi seluruh perangkat daerah. Di tengah tuntutan reformasi birokrasi dan percepatan pelayanan publik, kepemimpinannya diuji untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi, transparansi, dan keberpihakan pada masyarakat.
Penunjukannya juga membawa makna simbolik: membuka ruang lebih besar bagi perempuan dalam kepemimpinan birokrasi tingkat tinggi di Kalimantan Tengah. Namun bagi Linae, jabatan bukan soal simbol, melainkan tanggung jawab.
Dengan pengalaman panjang, latar belakang kuat di bidang kesehatan, serta rekam jejak organisasi yang solid, Linae Victoria Aden kini berdiri di garis depan pemerintahan daerah. Di tangannya, harapan akan birokrasi yang lebih humanis dan profesional kembali menemukan pijakan.(Red)