Jakarta – Pemerintah menetapkan perubahan skema penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah. Jika sebelumnya diberikan enam hari dalam sepekan, kini bantuan tersebut hanya disalurkan selama lima hari mengikuti hari aktif sekolah.
Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut penyaluran pada hari libur dinilai kurang efektif sehingga dihentikan.
“Dalam rangka perbaikan, efektivitas pelaksanaan, kalau kemarin enam hari termasuk hari libur, itu ternyata kurang efektif,” ujar Zulkifli Hasan.
Meski demikian, kebijakan tersebut tidak berlaku seragam di seluruh wilayah. Daerah dengan kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta wilayah dengan tingkat stunting tinggi, tetap dimungkinkan menerima MBG hingga enam hari sesuai kebutuhan.
“Untuk wilayah 3T dan yang tingkat stuntingnya tinggi, ada penanganan khusus. Bisa saja ditambah satu hari,” katanya.
Penyesuaian juga berlaku bagi sekolah berbasis asrama atau pondok pesantren, yang dapat menerapkan skema lima atau enam hari bergantung pada kondisi masing-masing.
“Pondok itu menyesuaikan, ada yang lima hari, ada juga yang enam hari,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa pengurangan hari penyaluran ini berdampak pada efisiensi anggaran. Dari total alokasi MBG dalam APBN 2026 sebesar Rp268 triliun, diperkirakan terdapat penghematan sekitar Rp20 triliun per tahun.
“Kita prediksi penghematan kurang lebih Rp20 triliun per tahun, dihitung mulai April,” ujar Dadan.
Kebijakan ini mulai dihitung sejak April, setelah program berjalan selama tiga bulan pada awal tahun.(Red)