dprd-kalteng-Syaufwan-Hadi-228154523

Palangka Raya – Capaian Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya yang berhasil menembus tiga besar calon Percontohan Kabupaten/Kota Antikorupsi 2026 memang layak disambut bangga. Namun di balik apresiasi itu, ada pesan tegas yang tak kalah penting: jangan cepat puas.

Wakil Ketua II Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi, menyebut pencapaian tersebut sebagai sinyal positif bahwa arah pembenahan birokrasi mulai berada di jalur yang benar. Transparansi dan akuntabilitas, yang selama ini kerap jadi sorotan, perlahan dinilai mulai menunjukkan bentuk nyata.

“Ini kabar baik. Artinya komitmen membangun sistem pemerintahan yang bersih mulai terlihat hasilnya,” ujarnya, Kamis (2/4/26).

Namun, bagi Syaufwan, masuk tiga besar bukanlah garis finis melainkan titik uji sesungguhnya. Ia mengingatkan, tantangan justru akan semakin besar, terutama dalam menjaga konsistensi penerapan prinsip antikorupsi di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Menurutnya, indikator dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak hanya berhenti pada dokumen atau sistem, tetapi juga menyentuh praktik nyata di lapangan mulai dari pengawasan internal, kualitas pelayanan publik, hingga budaya kerja aparatur.

“Jangan cepat puas. Ini justru momentum untuk membuktikan bahwa nilai antikorupsi benar-benar hidup dalam setiap pelayanan,” tegas politisi PAN tersebut.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya memaksimalkan tahapan bimbingan teknis (bimtek) serta monitoring dan evaluasi (monev) ke depan. Proses tersebut, kata dia, bukan sekadar formalitas, melainkan ruang untuk memperbaiki kelemahan yang masih ada.

Di sisi lain, Syaufwan juga mengingatkan bahwa predikat kota antikorupsi tidak bisa hanya ditopang oleh pemerintah semata. Partisipasi publik menjadi elemen kunci dalam menciptakan sistem pengawasan yang sehat.

“Keterbukaan informasi harus diperkuat, masyarakat harus dilibatkan. Dengan kolaborasi yang kuat, pengawasan bisa berjalan lebih efektif dan pelayanan publik semakin berkualitas,” pungkasnya.

Dengan capaian ini, Palangka Raya memang sudah melangkah lebih jauh. Namun pertanyaannya kini bukan lagi sudah sejauh apa, melainkan seberapa konsisten bisa bertahan di jalur bersih itu.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *