WhatsApp Image 2026-04-02 at 17.56.42

Kuala Kapuas – Di balik semangat siswa menatap bangku kuliah, masih terselip persoalan klasik yang belum sepenuhnya tuntas: akurasi data kesejahteraan. Hal ini mencuat saat jajaran Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah melakukan kunjungan ke SMAN 2 Kuala Kapuas.

Salah satu siswi kelas XII-C, Sylvia Agustina Pratiwi, dengan penuh harap menyampaikan kondisi keluarganya yang hingga kini belum berhasil mendapatkan akses bantuan KIP Kuliah. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang berprofesi sebagai penjual jamu dalam sektor UMKM.

“Sejak awal kelas XII saya sudah berusaha mengurus, tapi masih masuk desil 6 sampai 10. Padahal kondisi kami berharap bisa masuk desil 1 sampai 5,” ujarnya lirih.

Sebagai anak tunggal, Sylvia memikul harapan besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, kendala administratif berupa klasifikasi desil kesejahteraan menjadi penghalang utama. Ia menyebut proses pengajuan telah dilakukan melalui pihak kecamatan, tetapi hasil pendataan dinilai belum mencerminkan kondisi riil keluarganya.

Menanggapi hal tersebut, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong perbaikan data. Menurutnya, validitas data menjadi kunci utama agar bantuan pendidikan seperti KIP Kuliah tepat sasaran.

“Ini menjadi perhatian kami. Kita akan dorong agar data bisa disesuaikan, sehingga siswa yang memang membutuhkan dapat terakomodasi. Kasus ini bukan satu-satunya,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik dan Dinas Sosial guna memastikan akurasi data kesejahteraan masyarakat. Langkah ini dinilai penting agar tidak ada lagi siswa berpotensi yang terhambat melanjutkan pendidikan hanya karena persoalan administratif.

Kisah Sylvia menjadi potret nyata bahwa di balik program bantuan pendidikan, masih ada pekerjaan rumah besar dalam hal pendataan sosial. Pemerintah diharapkan terus melakukan pembenahan agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang adil untuk meraih masa depan melalui pendidikan.

Dengan perhatian yang semakin intens dari pemerintah daerah, harapan pun kembali menyala bahwa mimpi untuk kuliah tidak lagi terhalang oleh sekadar angka dalam data.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *