PALANGKA RAYA – Perayaan satu tahun kehadiran Duta Mall Palangka Raya tak hanya diramaikan dengan hiburan, tetapi juga panggung bagi para pelaku seni daerah. Sebanyak 19 tim tari dari berbagai sanggar di Kalimantan Tengah akan beradu kreativitas dalam Duta Sanggar Borneo Competition 2026, 24–25 Oktober 2026.
Kompetisi tari kreasi ini mengangkat kekayaan budaya Dayak dan seni tradisional Kalimantan Tengah dalam kemasan pertunjukan yang lebih kreatif. Para peserta ditantang mengembangkan koreografi dengan tetap mempertahankan identitas tari daerah.
Salah satu ketentuan utama kompetisi adalah sedikitnya 50 persen gerakan dalam koreografi harus mengadaptasi gerakan tari khas Kalimantan Tengah. Aturan tersebut membuat peserta tidak hanya dituntut tampil menarik, tetapi juga mampu memasukkan unsur budaya lokal ke dalam konsep pertunjukan mereka.
Selama dua hari, persaingan akan berlangsung dalam dua tahap. Pada 24 Oktober, seluruh peserta akan mengikuti babak penyisihan. Peserta yang dinilai mampu tampil terbaik akan melaju ke babak final pada 25 Oktober untuk memperebutkan gelar juara.
Penampilan para peserta akan dinilai oleh tiga juri dari latar belakang seni, kebudayaan dan manajemen, yakni Tutut Devita, S.T., Ketua Komite Kajian Seni; Wildae D. Binti, S.E., M.Si., Kepala UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah; serta Rabyatul Adawiyah dari Manajemen Duta Mall Palangka Raya.
Tak hanya menyuguhkan kompetisi tari, rangkaian acara juga menghadirkan special performance Band Side B dan penyanyi cilik Raquelle Salia Penta.
Dengan konsep yang memadukan gerakan tradisional dan kreativitas modern, panggung Duta Sanggar Borneo Competition 2026 diperkirakan menjadi salah satu ruang pertemuan antara seni tradisi dan selera pertunjukan generasi muda.
Duta Mall Palangka Raya mengajak masyarakat menyaksikan langsung kompetisi tersebut pada 24–25 Oktober 2026 mulai pukul 15.00 WIB di Duta Mall Palangka Raya.
Bukan sekadar mencari sanggar terbaik, kompetisi ini juga menjadi panggung untuk melihat bagaimana tari khas Kalimantan Tengah diterjemahkan kembali oleh generasi muda tanpa kehilangan akar budayanya.