Pangkalan Bun – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Reza Prabowo menambahkan, SMA Negeri 1 Pangkalan Bun tengah memperkuat sistem pembelajaran berbasis digital.
Sebanyak 27 papan tulis interaktif telah tersedia di setiap kelas. Ditambah satu unit bantuan dari Presiden Republik Indonesia, jumlahnya kini menjadi 28 papan tulis interaktif.
Sekolah juga mulai menggunakan sistem absensi elektronik. Kehadiran siswa dapat tercatat secara digital sehingga orang tua dapat ikut memantau aktivitas kehadiran anak di sekolah.
Menariknya, pembelajaran digital tersebut tidak membuat siswa harus bergantung pada telepon seluler. Sistem pembelajaran tetap diarahkan agar teknologi menjadi alat bantu belajar, bukan justru mengganggu konsentrasi siswa.
Reza juga menyoroti prestasi pelajar Kalteng di tingkat nasional. Salah satunya siswa SMA Negeri 2 Katingan Kuala yang berhasil meraih juara pertama lomba cerdas cermat yang digelar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
Prestasi itu menjadi gambaran bahwa kemampuan siswa dari Kalimantan Tengah, termasuk dari wilayah pedalaman, tidak otomatis kalah ketika harus berhadapan dengan peserta dari daerah lain.
“Ada DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat. Ini membuktikan bahwa anak-anak Kalimantan Tengah mampu bersaing,” ujar Reza.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi alasan untuk terus membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak Kalteng, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota.
“Tidak boleh ada anak pedalaman yang tidak bisa sekolah, tidak boleh ada anak pedalaman yang tidak bisa belajar, tidak bisa kuliah,” tegasnya.
Dari ruang sekolah di Pangkalan Bun, pesan yang dibawa pulang para pelajar bukan hanya soal mengejar nilai. Mereka diingatkan untuk berani bermimpi, memanfaatkan teknologi, menjaga karakter dan menggunakan masa sekolah sebaik mungkin.
Sebab, seperti pesan Agustiar, masa yang sedang mereka jalani sekarang adalah waktu untuk mempersiapkan diri sebelum suatu hari mereka sendiri yang menentukan arah Kalimantan Tengah.