780672283_1777018686779304_5664107815580470706_n

JAKARTA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menjadi pembahasan dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Panglima Jilah, pemimpin Pasukan Merah Tariu Borneo Bengkulu Rajaking (TBBR) dari suku Dayak Kanayatn, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Panglima Jilah menyampaikan kondisi karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Ia mengatakan Presiden Prabowo memberikan dukungan untuk memperkuat penanganan di lapangan, salah satunya melalui penambahan personel.

Menurut Panglima Jilah, dukungan tersebut mulai dilakukan dalam sepekan terakhir seiring dengan berlangsungnya kebakaran di sejumlah wilayah.

“Beliau membantu kita lewat personel untuk segera dan ini sudah dimulai. Sudah sekitar satu minggu sudah karhutla,” ujar Panglima Jilah kepada wartawan setelah bertemu Presiden Prabowo.

Selain personel, pembahasan juga mencakup penambahan armada udara untuk mendukung pemadaman. Panglima Jilah menyebut Prabowo telah menyetujui langkah penambahan helikopter serta rekayasa cuaca sebagai bagian dari upaya mengendalikan karhutla.

Ia tidak menyebutkan secara rinci jumlah personel maupun tambahan armada yang akan dikerahkan. Menurutnya, keputusan mengenai jumlah personel berada dalam kewenangan Presiden.

Pertemuan tersebut juga menyinggung aktivitas berladang masyarakat adat yang selama ini kerap dikaitkan dengan persoalan asap dan kebakaran lahan di Kalimantan Barat.

Panglima Jilah menilai aktivitas berladang masyarakat adat perlu dilihat berdasarkan kondisi lahan dan pola kehidupan masyarakat setempat. Ia menyebut masyarakat adat umumnya memilih lahan mineral untuk aktivitas perladangan, bukan kawasan gambut.

“Orang berladang itu di lahan mineral, bukan gambut,” katanya.

Menurut dia, minimnya pemahaman mengenai tradisi berladang masyarakat adat dapat memunculkan anggapan bahwa aktivitas tersebut menjadi sumber utama asap.

Di sisi lain, Panglima Jilah mengatakan masyarakat adat juga ikut melakukan pemantauan terhadap aktivitas pembakaran lahan di wilayah mereka. Kedekatan masyarakat dengan kawasan tempat tinggal dan lahan garapan, menurutnya, membuat pengawasan terhadap lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Kita masyarakat adat itu memang selalu monitoring. Jadi kalau kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, di situlah kita yang akan monitoringnya,” ujarnya.

Pertemuan Prabowo dan Panglima Jilah berlangsung ketika penanganan karhutla di Kalimantan masih menjadi perhatian, dengan upaya pemadaman di lapangan berjalan bersamaan dengan langkah pemerintah memperkuat personel, dukungan udara, dan rekayasa cuaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *