786354528_1820045088990615_2432334083295572957_n

SAMPIT – Kemarau panjang membuat Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama unsur Forkopimda Provinsi Kalteng turun langsung ke Sampit, Jumat (28/8/2026).

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kerja Gubernur setelah sebelumnya menyambangi sejumlah wilayah di bagian barat Kalteng, termasuk Sukamara, Pangkalan Bun dan Seruyan.

Kotawaringin Timur menjadi salah satu titik perhatian karena ancaman kebakaran di kawasan lahan gambut masih tinggi. Kondisi kemarau yang lebih kering membuat potensi api sulit dianggap sepele.

Agustiar meminta masyarakat tidak mengambil risiko dengan membakar lahan maupun pekarangan. Ia mengingatkan, kondisi cuaca yang dipengaruhi fenomena El Niño dapat membuat lahan lebih cepat kering sehingga api berpotensi menyebar lebih luas.

“Untuk mengantisipasi itu semua saya mengharapkan kolaborasi dan sinergi seluruh elemen masyarakat khususnya Kabupaten Kotawaringin Timur dalam menangani ancaman karhutla,” kata Agustiar.

Menurutnya, persoalan karhutla tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan petugas pemadam. Kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting karena pencegahan jauh lebih mudah dilakukan sebelum api membesar.

Di tengah fokus penanganan karhutla, kunjungan Agustiar juga menyentuh persoalan lain yang muncul akibat kemarau: kebutuhan dasar masyarakat.

Pemprov Kalteng menyalurkan bantuan air bersih sekaligus menggelar pasar dan pangan murah. Sekitar 4.000 paket sembako dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah ketika masyarakat harus menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Selain kebutuhan pangan, ketersediaan air bersih juga menjadi persoalan yang perlu diantisipasi selama kemarau berlangsung.

Pasar murah juga menyasar kelompok masyarakat tertentu, termasuk PNS golongan I dan II, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), serta tenaga kebersihan. Mereka dapat memperoleh bahan kebutuhan pokok dengan harga di bawah harga pasar melalui subsidi sekitar 40 persen.

Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa persoalan kemarau di Kotawaringin Timur tidak hanya berkaitan dengan titik panas dan kebakaran. Ketika hujan tak kunjung turun, dampaknya ikut merembet pada ketersediaan air, kebutuhan pangan hingga aktivitas masyarakat.

Karena itu, Agustiar mendorong seluruh unsur pemerintah, aparat dan masyarakat bergerak dalam satu irama menghadapi musim kering.

Ia menekankan bahwa menjaga lahan dari api bukan hanya soal menyelamatkan kondisi hari ini, tetapi juga memastikan lingkungan tetap aman untuk generasi berikutnya.

Di Sampit, agenda kunjungan kerja tersebut akhirnya membawa dua pesan sekaligus. Api harus dicegah sebelum membesar, sementara kebutuhan masyarakat harus tetap dijaga agar kemarau tidak berubah menjadi beban yang lebih berat bagi warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *