Hujan Belum Merata, Kalteng Diprediksi Masuki Musim Penghujan Akhir Oktober

PALANGKA RAYA – Musim kemarau di Kalimantan Tengah memasuki fase puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Kondisi tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Chandra, menyebut musim kemarau tahun ini menunjukkan kondisi yang cukup ekstrem. Berdasarkan data yang dipantau BMKG, jumlah hotspot pada 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode 2015.

Dampak karhutla juga terasa pada kualitas udara, khususnya di Kota Palangka Raya. Pada Kamis (24/9/2026) sore, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau mencapai sekitar 1.976 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00–16.00 WIB.

Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikulat di udara ketika kabut asap menyelimuti wilayah Kota Palangka Raya. Kondisi ini menjadi salah satu dampak yang paling terlihat dari aktivitas karhutla selama puncak musim kemarau.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG memprakirakan peluang hujan mulai meningkat. Sejumlah wilayah Kalteng berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode 25–27 September 2026, meski distribusinya belum merata.

Potensi hujan diprakirakan terjadi antara lain di wilayah Kotawaringin Timur, Katingan bagian utara, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan dan Seruyan bagian utara pada waktu yang berbeda.

Namun, kondisi tersebut belum menandai berakhirnya musim kemarau secara keseluruhan. BMKG memperkirakan masa peralihan menuju musim hujan berlangsung pada akhir Oktober hingga awal November 2026.

Artinya, masyarakat masih akan menghadapi periode transisi dalam beberapa pekan ke depan. Potensi hujan yang mulai meningkat dapat membantu mengurangi kekeringan dan asap, tetapi risiko karhutla masih perlu diwaspadai sebelum musim hujan berlangsung lebih merata.

BMKG juga mengingatkan potensi cuaca saat hujan turun, terutama kemungkinan munculnya petir atau kilat dan angin kencang pada sejumlah wilayah.

Dengan kondisi udara yang masih terdampak asap dan musim hujan yang belum sepenuhnya tiba, perkembangan cuaca dalam beberapa pekan ke depan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan perubahan kondisi lingkungan di Kalteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *