IMG_20240729_164637-768x791

JAKARTA – Perjalanan menuju pucuk pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia ditempuh melalui jalan panjang. Ada pendidikan, penugasan, pengalaman di lapangan, hingga bertahun-tahun bergelut dengan persoalan keamanan dan penegakan hukum.

Jejak panjang itu kini mengantarkan Komjen Pol. Suyudi Ario Seto ke posisi Kapolri.

Suyudi lahir pada 14 Juli 1973. Sejumlah sumber menyebut Jakarta sebagai tempat kelahirannya, sementara ada sumber lain yang menyebut Pandeglang, Banten. Ia kemudian memilih jalan pengabdian melalui institusi kepolisian dan menjadi bagian dari Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1994.

Tidak banyak cerita mengenai kehidupan Suyudi ketika masih kanak-kanak yang dipublikasikan secara terbuka. Namun, perjalanan hidupnya mulai terang ketika ia memasuki dunia pendidikan kepolisian.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Akpol, Suyudi memperkuat pendidikan profesionalnya melalui Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2003 dan kemudian Sespimti Polri pada 2018.

Dari sanalah perjalanan panjang seorang polisi yang kemudian dikenal kuat di bidang reserse itu dimulai.

Menapaki Jalan Panjang Dunia Reserse

Pada masa awal kariernya, Suyudi banyak bersentuhan dengan pekerjaan reserse. Ia pernah bertugas sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya, kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi sebagai kapolsek dan pejabat reserse.

Namanya kemudian muncul dalam berbagai penugasan, mulai dari Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kapolsek Metro Tanah Abang hingga Kapolsek Metro Penjaringan.

Ia juga dipercaya sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota dan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat. Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ke tingkat Bareskrim Polri.

Bagi Suyudi, dunia reserse menjadi salah satu ruang panjang untuk memahami bagaimana hukum bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Dari penanganan perkara hingga pengungkapan tindak pidana, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membentuk rekam jejaknya sebagai perwira kepolisian.

Memimpin dari Daerah ke Daerah

Karier Suyudi terus bergerak.

Pada 2014, ia dipercaya menjadi Kapolres Majalengka. Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Polres Bogor.

Perjalanan berikutnya membawa Suyudi ke posisi Kapolresta Bogor Kota dan kemudian Kapolres Metro Jakarta Pusat.

Di setiap penugasan, ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan kriminalitas, tetapi juga harus menjaga keamanan dan memberikan pelayanan kepolisian di wilayah yang memiliki karakter masyarakat berbeda-beda.

Kariernya kemudian berlanjut ke tingkat Polda dan Mabes Polri.

Suyudi pernah menjadi Dirreskrimum Polda Metro Jaya, kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di Bareskrim Polri, termasuk di bidang tindak pidana ekonomi khusus dan tindak pidana siber.

Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal ketika pada 2023 ia dipercaya sebagai Wakapolda Metro Jaya.

Setahun kemudian, tepatnya pada Juni 2024, Suyudi mendapat kepercayaan memimpin Polda Banten sebagai Kapolda.

Dari Kapolda Banten ke Kepala BNN

Babak baru perjalanan Suyudi dimulai pada 2025.

Setelah sebelumnya menjabat Kapolda Banten, ia kemudian dipercaya Presiden Prabowo Subianto untuk memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).

Suyudi dilantik sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025. Beberapa pekan kemudian, pangkatnya dinaikkan menjadi Komisaris Jenderal Polisi.

Di BNN, pengalaman panjangnya di bidang reserse dan penegakan hukum kembali mendapat ruang.

Ia berada di lembaga yang berhadapan langsung dengan persoalan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika—salah satu tantangan besar dalam penegakan hukum nasional.

Tidak lama berselang, perjalanan karier Suyudi kembali memasuki babak yang lebih tinggi.

“Kapolri Bukan Puncak Karier, tetapi Puncak Tanggung Jawab”

Pada 1 Oktober 2026, nama Suyudi menjadi pusat perhatian nasional setelah Komisi III DPR RI menyepakati dirinya sebagai calon Kapolri, sebelum kemudian mendapatkan persetujuan dalam rapat paripurna DPR.

Dalam uji kelayakan dan kepatutan, Suyudi membawa gagasan “Polri Bersama Masyarakat”.

Ada satu kalimat yang disampaikannya yang menggambarkan bagaimana ia memandang jabatan tersebut.

“Bagi saya, jabatan Kapolri bukanlah puncak karier, jabatan Kapolri adalah puncak tanggung jawab.”

Kalimat itu menjadi penanda penting dari perjalanan panjangnya.

Sebab, perjalanan Suyudi tidak berhenti pada daftar jabatan yang pernah didudukinya. Dari seorang taruna Akpol 1994, ia melewati berbagai ruang pengabdian—mulai dari reserse, kapolsek, kapolres, pejabat Bareskrim, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten hingga Kepala BNN.

Kini, perjalanan itu membawanya ke kursi tertinggi di institusi kepolisian.

Tiga Puluh Dua Tahun Pengabdian

Jika dihitung sejak menjadi bagian dari Akpol 1994 hingga dipercaya menjadi Kapolri pada 2026, sekitar 32 tahun telah dilalui Suyudi di lingkungan kepolisian.

Tiga dekade lebih itu diisi dengan perpindahan tugas, penanganan berbagai persoalan, pengalaman memimpin personel, sekaligus berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat.

Dari lorong-lorong penyidikan hingga ruang pimpinan lembaga negara, dari tugas kewilayahan hingga penanganan persoalan narkotika, setiap fase menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Kini, ketika tongkat komando berada di tangannya, tantangannya pun berubah.

Suyudi bukan lagi hanya seorang perwira yang memimpin satu wilayah atau satu lembaga. Ia kini berada di posisi yang menuntut kemampuan memimpin institusi kepolisian secara nasional, sekaligus menjawab harapan masyarakat terhadap pelayanan, penegakan hukum dan keamanan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *