FB_IMG_1769352928484

Palangka Raya – Nama Jalan G. Obos di Kota Palangka Raya sudah lama menjadi urat nadi aktivitas warga. Namun, tidak semua orang mengetahui bahwa nama besar di balik jalan protokol itu adalah George Obos Oemar, seorang tokoh Dayak yang jejak hidupnya melintasi masa kolonial, Revolusi Kemerdekaan, hingga perjuangan berdirinya Provinsi Kalimantan Tengah.

George Obos lahir pada 24 Desember 1902 di Kasongan, wilayah yang dahulu dikenal sebagai Tewang Sangalang Garing, kini ibu kota Kabupaten Katingan. Ia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Heine Oemar, merupakan seorang Damang kepala adat yang disegani dan memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat.

Menariknya, nama belakang “Oemar” yang menjadi marga keluarga tidak selalu muncul dalam catatan resmi pada masa Hindia Belanda. Dalam situasi politik yang penuh pengawasan, banyak tokoh pergerakan memilih menyamarkan identitas keluarga untuk melindungi diri dan kerabat dari incaran intelijen kolonial. Cara ini pula yang disebut menjadi alasan mengapa nama “Oemar” kerap tidak tercantum dalam dokumen pendidikan maupun militer saat itu.

Dari Pendidikan Zending ke Sekolah Perwira Pelayaran

Di usia muda, George Obos sudah menyadari bahwa pendidikan modern adalah kunci perubahan. Ia mengawali pendidikan dasar di Sekolah Zending Banjarmasin, lalu melanjutkan langkah berani pada tahun 1926 dengan merantau ke Surabaya.

Di kota besar itulah ia menempuh pendidikan di Kweekschool voor Scheepvaart, sekolah yang membentuk disiplin, kepemimpinan, dan pengetahuan kemaritiman sebuah fondasi yang kelak menguatkan posisinya dalam jalur perjuangan di matra laut.

Namun Surabaya bukan hanya tempat belajar, melainkan juga tempat gagasan kebangsaan tumbuh kuat di dadanya.

Saksi Sejarah Sumpah Pemuda

Saat semangat nasionalisme menyala di kalangan pemuda Nusantara, George Obos tak tinggal diam. Ia aktif dalam organisasi kepemudaan dan tercatat sebagai wakil Jong Borneo yang hadir dalam momen monumental Kongres Sumpah Pemuda II, 27–28 Oktober 1928 di Jakarta.

Kehadirannya menjadi bukti bahwa pemuda Dayak sejak awal telah menegaskan posisi: Indonesia adalah rumah bersama, dan Kalimantan bagian dari cita-cita merdeka.

Menerobos Blokade Belanda, Menghidupkan Perlawanan Kalimantan

Ketika Proklamasi 1945 dikumandangkan, Kalimantan berada dalam situasi genting. Belanda melalui NICA melakukan blokade dan agresi, membuat jalur komunikasi dan logistik ke pulau itu nyaris lumpuh. Bahkan Gubernur Kalimantan saat itu, Pangeran Mohammad Noer, harus memimpin dari Jawa karena sulitnya masuk ke Kalimantan.

Di tengah kondisi seperti itu, George Obos tampil sebagai motor perlawanan.

Bersama pemuda Kalimantan di Jawa, ia mendirikan serta memimpin Badan Pembantu Oesaha Goebernoer (BPOG). Badan ini menjadi pusat penyusunan strategi, logistik, hingga pendanaan untuk mengirimkan ekspedisi menembus blokade laut Belanda menuju Kalimantan membuka kembali jalur perjuangan yang sempat tertutup.

Dalam periode revolusi, George Obos juga ikut mengangkat senjata dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945, berdiri sejajar bersama para pejuang mempertahankan kemerdekaan.

Perannya kemudian makin strategis ketika ia dipercaya sebagai Perwira Intelijen ALRI. Dengan pangkat Letnan Kolonel, ia berada dalam struktur ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan sebagai staf intelijen sekaligus pengelola logistik dan keuangan.

Posisi itu menjadikannya penghubung penting antara pusat komando di Jawa dengan gerilyawan di pedalaman, termasuk jaringan perjuangan MN 1001 yang dipimpin Tjilik Riwut.

Dari Medan Perang ke Meja Pemerintahan

Usai pengakuan kedaulatan, George Obos memilih pulang ke tanah kelahiran untuk membangun daerah melalui jalur sipil. Perjuangannya bergeser dari medan perang menuju kerja pemerintahan namun semangatnya tetap sama: membangun Kalimantan dari dalam.

Ia dipercaya menjadi Bupati Barito Utara pertama (1951–1954), menata pemerintahan wilayah pedalaman yang saat itu masih minim infrastruktur administrasi. Setelah itu, ia ditugaskan menjadi Bupati Kapuas (1955–1958).

Tak berhenti sebagai birokrat, George Obos juga tercatat sebagai salah satu tokoh kunci dalam perjuangan politik pembentukan Kalimantan Tengah. Bersama tokoh-tokoh lainnya, ia terlibat aktif dalam Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS) dan Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah.

Perjuangan ini pada akhirnya berbuah manis. Tahun 1957, Kalimantan Tengah resmi berdiri sebagai provinsi baru menjadi simbol bahwa masyarakat Dayak memiliki ruang politik dan pemerintahan yang lahir dari perjuangan panjang.

Mengabdi hingga Tingkat Nasional

Kontribusinya juga tidak berhenti di tingkat daerah. George Obos melanjutkan pengabdian ke tingkat pusat sebagai anggota MPRS periode 1960–1967, membawa suara dan kepentingan daerah ke panggung nasional.

Di masa itu, ia menjadi salah satu tokoh penting yang menjaga aspirasi Kalimantan tetap terdengar di pusat kekuasaan.

Warisan yang Hidup di Jantung Kota

George Obos Oemar wafat pada 19 April 1982 dalam usia 79 tahun. Ia dimakamkan dengan penghormatan di Komplek Pekuburan Kristen Pahandut, Palangka Raya.

Namun warisannya tidak ikut terkubur bersama waktu.

Namanya kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Palangka Raya diabadikan sebagai Jalan G. Obos, jalan protokol yang tak pernah sepi. Sebuah pengingat bahwa di balik riuhnya kendaraan dan lalu lintas kota, pernah ada seorang putra Dayak yang menyeberangi zaman, menantang kolonial, menghubungkan perjuangan, dan ikut membidani lahirnya Kalimantan Tengah.

Karena sejarah kadang tidak selalu berbicara lewat monumen besar, tetapi lewat nama jalan yang setiap hari kita lewati tanpa sadar, kita sedang melewati jejak pengabdian seorang pejuang.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *