016de974-1ced-43af-9052-62a74be1885f-1030x688

Palangka Raya — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kota Palangka Raya seiring prediksi kemunculan fenomena El Nino pada April 2026. Pemerintah kota tidak menunggu situasi memburuk—langkah antisipasi mulai digerakkan lebih awal.

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemetaan wilayah rawan karhutla telah dilakukan secara menyeluruh. Titik-titik rawan kini menjadi fokus pengawasan, terutama di kawasan dengan karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar saat musim kering.

Sebagai langkah konkret, BPBD menyiapkan sekitar 30 pos lapangan yang tersebar di seluruh kelurahan. Pos ini menjadi garda depan dalam pemantauan dan respon cepat jika terjadi kebakaran.

“Kami sudah menyiapkan sekitar 30 pos lapangan (poslap) yang tersebar di 30 kelurahan di Kota Palangka Raya sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla,” ujar Analis Kebencanaan BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet.

Selain memperkuat titik pantau, BPBD juga menggencarkan patroli rutin serta sosialisasi ke masyarakat. Edukasi difokuskan pada pencegahan, terutama larangan membuka lahan dengan cara dibakar praktik yang masih kerap terjadi.

“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Upaya pencegahan ini penting karena apabila lahan, khususnya lahan gambut, sudah terbakar maka akan sulit dipadamkan,” jelasnya.

Tak hanya itu, koordinasi lintas instansi juga mulai diperkuat. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan embung di kawasan rawan karhutla, sebagai sumber air saat proses pemadaman berlangsung.

“Pembuatan embung ini akan dikerjakan bersama Dinas PUPR Kota Palangka Raya. Nantinya embung tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air saat terjadi kebakaran,” tambah Balap.

Fenomena El Nino yang diprediksi cukup kuat tahun ini berpotensi memperpanjang musim kemarau dan memperparah kekeringan. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang dapat memicu meningkatnya risiko karhutla.

Dengan berbagai langkah mitigasi yang mulai dijalankan, pemerintah berharap potensi kebakaran dapat ditekan sejak dini. Namun, kunci utamanya tetap berada pada kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghindari praktik pembakaran lahan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *