Lamandau — Isu dugaan skandal yang melibatkan oknum aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lamandau memicu kegaduhan publik. Percakapan sensitif yang beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp membuka kembali sorotan terhadap etika pejabat daerah.
Tangkapan layar percakapan yang diduga melibatkan seorang kepala dinas dengan bawahannya menjadi pemicu utama polemik. Isi percakapan yang bernuansa asusila dinilai tidak hanya melanggar norma, tetapi juga mencoreng profesionalitas aparatur pemerintah.
Informasi mengenai percakapan tersebut pertama kali menyebar di kalangan grup WhatsApp masyarakat, sebelum akhirnya meluas dan menjadi perbincangan publik. Reaksi pun cepat bermunculan, terutama karena dugaan tersebut menyentuh level pimpinan instansi.
Seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa isi pesan tersebut sangat tidak pantas dan mengarah pada ajakan hubungan pribadi yang melanggar etika.
“Isi chat-nya itu sensitif sekali, seperti ingin mengajak melakukan hubungan badan. Kabarnya itu antara Kepala Dinas dengan oknum Kasi atau Kabid,” ujarnya.
Jika dugaan tersebut terbukti, publik menilai hal ini menjadi indikator serius adanya degradasi moral di lingkungan birokrasi. Apalagi, isu serupa disebut bukan kali pertama mencuat di wilayah tersebut.
Hingga kini, identitas pasti pihak yang terlibat masih belum terkonfirmasi secara resmi. Namun, spekulasi mengenai inisial dan instansi terkait mulai beredar di internal pemerintahan daerah.
Tekanan publik pun menguat agar inspektorat dan badan kepegawaian segera turun tangan melakukan penelusuran. Transparansi dalam penanganan kasus dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah.
Kasus ini tidak hanya berdampak pada citra birokrasi, tetapi juga berpotensi mengganggu kinerja pelayanan publik. Fokus aparatur yang seharusnya diarahkan pada pelayanan dan pembangunan dikhawatirkan terganggu oleh persoalan pribadi yang melanggar disiplin.(red)