Gunung Mas – Upaya mendorong literasi di Kalimantan Tengah kini bergerak ke arah yang lebih kontekstual. Tak lagi sekadar membaca dan menulis, generasi muda mulai diajak memahami bagaimana literasi beririsan langsung dengan kehidupan sehari-hari, termasuk cara mengelola uang dan mengambil keputusan ekonomi.
Hal itu terlihat dalam Roadshow Festival Literasi Harati 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalteng di Kuala Kurun (Gunung Mas) dan Puruk Cahu (Murung Raya) pada pertengahan April 2026. Kegiatan ini menjadi ruang interaksi antara pelajar, pemerintah daerah, dan komunitas literasi dalam membangun pemahaman yang lebih luas tentang literasi modern.
Di Kuala Kurun, antusiasme peserta langsung terasa sejak pagi. Ratusan pelajar tingkat SMA/SMK/MA mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya berisi edukasi, tetapi juga diskusi terbuka tentang kebiasaan membaca, menulis, hingga perilaku konsumsi. Literasi di sini diposisikan sebagai kemampuan berpikir kritis bukan sekadar memahami teks, tetapi juga memahami realitas.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gunung Mas, Richard, menegaskan pentingnya pergeseran cara pandang terhadap literasi. “Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan untuk memahami informasi dan mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pemerintah daerah melihat pendekatan ini sebagai langkah strategis. Literasi dianggap sebagai fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan, terutama di tengah arus informasi dan dinamika ekonomi yang semakin kompleks.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Mas, Maria Efianti, juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Kami berharap sinergi dengan Bank Indonesia ini terus berlanjut, terutama dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pengelolaan keuangan dan perlindungan konsumen,” katanya.
Berbeda dari pendekatan konvensional, Festival Literasi Harati memasukkan isu ekonomi sebagai bagian utama. Pelajar diperkenalkan pada konsep inflasi, stabilitas harga, hingga pentingnya belanja secara bijak. Edukasi “Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah” serta pengenalan perlindungan konsumen menjadi materi yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.
Salah satu narasumber dari komunitas literasi Hifdzi Library, Devi Puji Lestari, menekankan pentingnya literasi sebagai alat ekspresi dan perubahan. “Menulis bukan hanya soal menuangkan kata, tetapi bagaimana menyampaikan gagasan yang bisa memberi dampak bagi lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Di Murung Raya, pendekatan serupa diperluas melalui kegiatan pustaka keliling dan diskusi interaktif di sekolah. Model ini dinilai lebih efektif menjangkau pelajar di daerah, sekaligus menghidupkan kembali peran perpustakaan sebagai ruang belajar yang dinamis, bukan sekadar tempat menyimpan buku.
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Murung Raya, dr. Suria Siri, menilai kegiatan ini relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. “Literasi harus mampu menjawab tantangan zaman, termasuk bagaimana generasi muda memahami ekonomi dan mengelola keuangan sejak dini,” ujarnya.
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Bank Indonesia juga mendorong output konkret melalui lomba menulis cerpen bertema bijak berbelanja, serta kompetisi duta literasi dan cerdas cermat tingkat provinsi. Artinya, literasi tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan.
Roadshow ini menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam membangun ekosistem literasi di Kalimantan Tengah. Dengan menjangkau beberapa kabupaten, program ini mencoba mengurangi kesenjangan akses literasi sekaligus memperkuat kapasitas generasi muda di daerah.
Di balik kegiatan ini, ada pesan yang lebih dalam: literasi hari ini bukan lagi soal seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi seberapa mampu seseorang memahami dunia dan mengambil keputusan yang tepat di dalamnya.(red)