WhatsApp Image 2026-04-29 at 15.26.37


Barito Selatan – Upaya mendorong literasi di kalangan pelajar mulai bergeser arah. Jika sebelumnya identik dengan membaca dan menulis, kini literasi diposisikan lebih luas—menyentuh cara berpikir, memahami informasi, hingga mengambil keputusan ekonomi sehari-hari.

Pendekatan itu terlihat dalam pelaksanaan Roadshow Festival Literasi Harati 2026 di Kabupaten Barito Selatan, Kamis (23/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah ini menjadi penutup rangkaian roadshow di sejumlah daerah, sekaligus mempertegas perubahan wajah literasi di tingkat lokal.

Sejak pagi, ratusan pelajar SMA/SMK/MA bersama guru pendamping dan komunitas literasi memadati lokasi kegiatan. Antusiasme peserta menjadi indikasi bahwa pendekatan literasi yang lebih kontekstual mulai diterima, terutama ketika materi yang disampaikan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Wakil Bupati Barito Selatan, Khristianto Yudha, menilai kegiatan ini tidak sekadar seremoni peringatan Hari Buku Dunia. Ia melihatnya sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia di daerah.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya literasi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Namun yang membedakan, Festival Literasi Harati tidak berhenti pada wacana membaca. Materi yang dibawakan justru menyinggung isu yang lebih praktis, seperti inflasi, perilaku konsumsi, hingga pengelolaan keuangan. Edukasi “Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah” menjadi pintu masuk untuk mengenalkan literasi finansial sejak dini.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalteng, Adhi Nugroho, menyebut kegiatan ini dirancang untuk memperluas makna literasi di tengah masyarakat. “Kami ingin literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami kondisi ekonomi dan mengambil keputusan yang tepat,” jelasnya.

Peran komunitas juga ikut diperkuat. Salah satu narasumber, Bripka Yogi Friatno Setiawan dari program perpustakaan keliling Polsek Dusun Selatan, menunjukkan bahwa literasi bisa hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui pendekatan langsung ke masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Barito Selatan, Swita Minarsih, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pengembangan literasi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.

“Sinergi ini penting agar literasi benar-benar tumbuh sebagai budaya, bukan hanya kegiatan sesaat,” katanya.

Dengan berakhirnya roadshow di Barito Selatan, fokus berikutnya bergeser pada tahap lanjutan: kompetisi menulis cerpen dan lomba vlog yang akan digelar secara daring. Output ini menjadi indikator bahwa literasi tidak hanya diajarkan, tetapi juga diuji dan dipraktikkan.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan ekonomi, pesan yang ingin ditegaskan cukup jelas: generasi muda tidak cukup hanya bisa membaca, tetapi juga harus mampu memahami dunia—dan bertindak cerdas di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *