IMG-20260430-WA0132

Palangka Raya – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional 2026, ruang audiensi di Kantor DPD RI Kalimantan Tengah di Palangka Raya menjadi lebih dari sekadar tempat pertemuan formal. Ia berubah menjadi ruang curhat kolektif para pekerja dari sektor informal hingga buruh harian yang selama ini merasa berjalan sendiri di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Anggota DPD RI asal Kalimantan Tengah, H Siti Aseanti, duduk berhadapan langsung dengan perwakilan serikat pekerja. Bukan sekadar menyerap aspirasi, pertemuan itu memperlihatkan jurang yang masih lebar antara kebijakan di atas kertas dan kenyataan di lapangan.

Bagi banyak pekerja, terutama di sektor informal, jaminan sosial masih terasa seperti “hak yang jauh dari jangkauan”. Upah yang tak menentu, risiko kerja tanpa perlindungan, hingga minimnya akses pelatihan menjadi keluhan yang berulang dan belum benar-benar terjawab.

“Kami ini bekerja setiap hari, tapi rasa aman itu belum kami miliki. Kalau sakit atau kecelakaan, kami sering harus tanggung sendiri,” ungkap salah satu perwakilan pekerja dalam forum tersebut.

Siti Aseanti tidak menampik kondisi itu. Ia justru menegaskan bahwa negara tidak boleh absen, terutama bagi kelompok pekerja rentan. “Negara harus hadir, bukan hanya lewat aturan, tapi lewat perlindungan yang benar-benar dirasakan pekerja di lapangan,” kata wanita yang akrab disapa bidan Sean ini.

Namun di balik komitmen itu, tantangan besar masih membayangi: bagaimana memastikan sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan, dan organisasi pekerja tidak berhenti pada jargon “hubungan industrial yang sehat”.

Ketua Panitia May Day 2026, Bush Valentino, melihat audiensi ini sebagai momentum penting, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan buruh belum selesai.“May Day bukan seremoni. Ini pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah soal kesejahteraan buruh,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga cara penyampaian aspirasi tetap damai.
“Kami ingin suara buruh didengar tanpa harus menciptakan kegaduhan. Kuat dalam substansi, santun dalam cara,” tambahnya.

Pertemuan yang berlangsung hangat itu memang ditutup dengan senyum dan foto bersama. Namun di balik itu, tersimpan harapan besar agar suara yang disampaikan tidak berhenti sebagai catatan, melainkan benar-benar berlanjut menjadi kebijakan.

Sebab bagi para pekerja di Kalimantan Tengah, yang dibutuhkan bukan lagi sekadar ruang bicara, melainkan perubahan nyata.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *