Direktur-RSJ-Seniriaty

PALANGKA RAYA – Dua kasus bunuh diri yang terjadi di Kota Palangka Raya dalam sepekan terakhir menjadi perhatian terhadap pentingnya upaya deteksi dini dan penanganan kesehatan mental di masyarakat.

Direktur RSJ Kalawa Atei, dr. Seniriaty, mengatakan rumah sakit jiwa tidak hanya berperan dalam pengobatan pasien, tetapi juga menjalankan fungsi promotif, preventif, dan edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental, termasuk pencegahan bunuh diri.

“Fungsi rumah sakit jiwa itu tidak hanya kuratif saja, tetapi juga promotif, edukatif, dan preventif. Ke depan, angka-angka kasus kesehatan mental ini menjadi pekerjaan rumah kami. Selain itu, di rumah sakit juga tersedia layanan kesehatan mental untuk pencegahan bunuh diri,” ujar Seniriaty, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, bunuh diri merupakan persoalan yang dipengaruhi berbagai faktor dan tidak dapat disimpulkan hanya dari satu penyebab. Setiap kasus perlu dikaji secara menyeluruh karena dapat berkaitan dengan gangguan psikotik, depresi, maupun tekanan psikologis yang berat.

“Banyak faktor yang melatarbelakanginya, di antaranya gangguan psikotik, depresi, hingga tekanan psikologis yang berat. Hal tersebut tidak dapat disamaratakan, sehingga perlu dilihat secara kasus per kasus,” jelasnya.

Seniriaty menjelaskan bahwa stres yang berlangsung tanpa penanganan berpotensi berkembang menjadi depresi hingga gangguan mental yang lebih serius. Karena itu, ia menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Stres dapat menjadi faktor awal yang kemudian berkembang menjadi depresi hingga kondisi yang lebih berat. Oleh karena itu, deteksi dini kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting,” katanya.

Ia menambahkan, RSJ Kalawa Atei telah menyediakan layanan kesehatan mental dan jejaring pencegahan bunuh diri, termasuk melalui unit gawat darurat untuk mempercepat penanganan terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.

“Kami memiliki layanan dan jejaring untuk pencegahan bunuh diri, termasuk di unit gawat darurat, dengan tujuan menekan angka kasus serta meningkatkan kecepatan penanganan,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat diimbau menerapkan manajemen stres yang baik, menjaga aktivitas positif, serta tidak ragu mencari bantuan tenaga profesional ketika mengalami gangguan kesehatan mental. Seniriaty juga menyampaikan bahwa layanan kesehatan jiwa di RSJ Kalawa Atei dapat diakses melalui BPJS Kesehatan maupun Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Di sisi lain, ia mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Menurutnya, anggapan bahwa seluruh ODGJ identik dengan perilaku kekerasan merupakan pandangan yang keliru dan dapat memicu diskriminasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *