Dari 51 Guru, Disdik Kalteng Ingin Lahirkan 10 Ribu Pendidik yang Melek Teknologi

PALANGKA RAYA – Perubahan besar di dunia pendidikan tidak selalu dimulai dari jumlah yang besar. Di Kalimantan Tengah, perubahan itu justru sedang dicoba dari 51 guru.

Sebanyak 51 guru dari 17 SMA dan SMK terpilih mengikuti Pelatihan Sains bagi Fasilitator Daerah yang berlangsung hingga 5 Oktober 2026 di Palangka Raya. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk membawa pulang pengetahuan baru, tetapi juga menjadi penggerak yang nantinya membagikan ilmu tersebut kepada guru-guru lain.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo melihat 51 peserta itu sebagai titik awal dari sebuah efek berantai. Ia ingin pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti di ruang kelas pelatihan, tetapi terus menyebar ke sekolah-sekolah di berbagai wilayah Kalteng.

“Hari ini di hadapan kita ada 51 calon fasilitator daerah. Saya berharap 51 orang ini nantinya bisa menghasilkan lagi 100, bisa 1.000, bahkan bisa sampai 10.000 guru-guru kita yang mendapatkan manfaat,” kata Reza, Jumat malam (2/10/2026).

Menurut Reza, tantangan pendidikan saat ini tidak cukup dijawab hanya dengan menambah fasilitas. Perangkat teknologi, ruang belajar, hingga berbagai platform digital tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan kemampuan guru dalam memanfaatkannya.

Karena itu, peningkatan kapasitas pendidik menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan yang sedang didorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Guru kini tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga harus semakin akrab dengan perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), coding, hingga berbagai platform digital pembelajaran.

“Seluruh fasilitas yang sudah kita siapkan, kalau tidak kita gunakan, akan menjadi sia-sia. Kita bukan hanya membeli barang, tetapi bagaimana kita membentuk ekosistem, bagaimana memastikan ada keberlanjutan dan multiplier effect,” ujarnya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah PENA KALTENG, platform yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan sekaligus pemantauan pendidikan. Di dalamnya terdapat berbagai informasi pendidikan, mulai dari sekolah, guru, murid, sarana prasarana hingga program pendidikan.

Namun bagi Reza, kekuatan platform tersebut bukan hanya pada data. PENA KALTENG juga menjadi ruang berbagi pengetahuan antarguru.

Saat ini, ribuan modul ajar telah tersedia dan dapat dimanfaatkan para pendidik. Guru dari satu sekolah dapat menemukan materi yang dibuat guru lain tanpa harus selalu memulai semuanya dari nol.

“Saya meminta seluruh guru di Kalimantan Tengah meng-upload modul ajarnya. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hari ini sudah ada lebih dari 10 ribu modul di PENA KALTENG,” ucapnya.

Upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik juga akan diperkuat melalui pemanfaatan Assemblr Studio. Para peserta pelatihan akan mendapatkan akses untuk mengembangkan materi pembelajaran interaktif, termasuk membuat modul pembelajaran tiga dimensi.

Bagi dunia pendidikan yang sedang beradaptasi dengan generasi digital, langkah tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak cara bagi guru untuk menyampaikan pelajaran. Materi yang selama ini hanya disampaikan melalui buku atau papan tulis dapat dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang lebih interaktif.

Di sisi lain, Reza juga menghubungkan peningkatan kapasitas guru dengan persoalan kesejahteraan. Menurutnya, kesejahteraan dan produktivitas harus berjalan beriringan.

Guru didorong untuk terus menghasilkan karya, membuat modul, mengembangkan metode pembelajaran, serta membagikan pengetahuan yang dimiliki.

“Saya punya mimpi bagaimana guru-guru kita bisa sejahtera. Tetapi guru yang produktif, guru yang punya modul, guru yang berkreasi, itulah yang kita hargai. Apa yang Bapak/Ibu kerjakan, maka itu yang akan Bapak/Ibu terima,” ungkapnya.

Bagi Reza, pekerjaan guru juga bukan sekadar rutinitas di dalam kelas. Ada generasi yang sedang dipersiapkan melalui tangan para pendidik.

Ia mengingatkan bahwa kualitas pendidikan hari ini akan ikut menentukan wajah Kalimantan Tengah pada masa mendatang.

“Jangan pernah menganggap pekerjaan seorang guru atau kepala sekolah adalah pekerjaan yang biasa-biasa saja. Di pundak Bapak dan Ibu ada generasi-generasi kita. Lima, 10, atau 20 tahun yang akan datang, calon-calon pemimpin itu lahir dari Bapak dan Ibu,” pungkasnya.

Dari 51 guru, Disdik Kalteng berharap lahir ratusan fasilitator, ribuan pendidik yang semakin kreatif, hingga ekosistem pembelajaran yang terus tumbuh.

Sebab, transformasi pendidikan tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Justru setelah pelatihan berakhir, tantangan sebenarnya dimulai: seberapa jauh ilmu yang diperoleh mampu berpindah dari satu guru ke guru lainnya dan akhirnya dirasakan langsung oleh murid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *