PANGKALAN BUN — Setiap 3 Oktober, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) tidak sekadar memperingati bertambahnya usia. Tanggal itu menjadi pengingat tentang perjalanan panjang sebuah daerah yang tumbuh dari sejarah kerajaan, melewati dinamika pemerintahan, hingga menjelma menjadi salah satu daerah penting di Kalimantan Tengah.
Tahun ini, tepat 3 Oktober 2026, Kabupaten Kotawaringin Barat genap berusia 67 tahun.
Enam puluh tujuh tahun bukan sekadar angka. Di dalamnya tersimpan cerita tentang perjuangan, perubahan wilayah, pergantian generasi, serta harapan masyarakat yang terus berkembang dari masa ke masa.
Jauh sebelum nama Kabupaten Kotawaringin Barat dikenal seperti sekarang, kawasan ini telah memiliki sejarah panjang melalui Kerajaan Kotawaringin.
Kerajaan tersebut berkaitan erat dengan Kesultanan Banjar. Dalam sejarah lokal, Kerajaan Kotawaringin didirikan oleh Pangeran Adipati Antakusuma, putra Sultan Musta’inubillah dari Kerajaan Banjar. Dari perjalanan sejarah kerajaan inilah salah satu akar identitas masyarakat Kotawaringin kemudian tumbuh.
Jejak masa lalu itu masih dapat dirasakan hingga kini. Pangkalan Bun, yang menjadi ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat, tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Kota ini juga menyimpan berbagai peninggalan sejarah dan kebudayaan yang menjadi pengingat perjalanan panjang daerah.
Namun, perjalanan menuju terbentuknya Kabupaten Kotawaringin Barat tidak berlangsung dalam waktu singkat.
Memasuki masa setelah Indonesia merdeka, muncul keinginan masyarakat di wilayah Kotawaringin untuk mendapatkan pemerintahan daerah yang lebih dekat dengan masyarakat dan mampu mempercepat pembangunan.
Aspirasi tersebut salah satunya tercermin dalam resolusi DPRDS Kabupaten Kotawaringin pada 30 Juni 1955 yang mendorong pembentukan daerah baru dengan pusat pemerintahan di Pangkalan Bun.
Perjuangan tersebut akhirnya menemukan titik terang.
Melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, Kabupaten Kotawaringin dimekarkan menjadi dua daerah tingkat II, yakni Kabupaten Kotawaringin Timur dengan ibu kota Sampit dan Kabupaten Kotawaringin Barat dengan ibu kota Pangkalan Bun.

Kemudian pada 3 Oktober 1959, Kabupaten Kotawaringin Barat secara resmi diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Tengah Tjilik Riwut, atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.
Peresmian itu berlangsung di Balai Sembaga Mas, Pangkalan Bun, sekitar pukul 09.15 WIB.
Sejak saat itulah perjalanan Kotawaringin Barat sebagai sebuah kabupaten memasuki babak baru.
C. Mihing tercatat sebagai bupati kepala daerah pertama. Dari pemerintahan awal tersebut, roda pembangunan terus bergerak, melewati pergantian kepemimpinan dan perubahan zaman.
Wilayah Kobar pun tidak selamanya seperti sekarang.
Pada 2003, sebagian wilayah Kotawaringin Barat kembali mengalami penataan administrasi. Melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003, lahirlah dua kabupaten baru, yakni Sukamara dan Lamandau.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari dinamika perjalanan pemerintahan di wilayah barat Kalimantan Tengah.
Kini, Kotawaringin Barat memiliki enam kecamatan: Arut Selatan, Arut Utara, Kumai, Kotawaringin Lama, Pangkalan Banteng, dan Pangkalan Lada.
Dari kerajaan hingga kabupaten, dari hutan dan sungai hingga berkembang menjadi kawasan pemerintahan, perdagangan, perkebunan, pariwisata, serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, wajah Kobar terus berubah.
Namun satu hal tetap menjadi benang merah: sejarah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hadir dalam nama tempat, bangunan bersejarah, tradisi masyarakat, cerita para tetua, hingga identitas budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, peringatan Hari Jadi ke-67 Kabupaten Kotawaringin Barat bukan hanya tentang mengenang kapan daerah ini berdiri.
Lebih jauh, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana perjalanan yang telah ditempuh dan ke mana langkah pembangunan akan diarahkan.
Generasi hari ini menerima sebuah daerah yang dibangun melalui perjalanan panjang para pendahulu. Tantangannya kemudian adalah memastikan warisan tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Di usia ke-67, Kotawaringin Barat berdiri di antara dua hal: sejarah yang harus dirawat dan masa depan yang harus dibangun.

Dari jejak Kerajaan Kotawaringin, perjuangan pembentukan daerah, hingga perjalanan 67 tahun sebagai kabupaten, Kobar terus menulis bab berikutnya.
Dan setiap 3 Oktober, halaman sejarah itu kembali dibuka—bukan untuk sekadar mengenang masa lalu, tetapi untuk mengingatkan bahwa sebuah daerah dibangun oleh waktu, perjuangan, dan generasi yang tidak pernah berhenti berharap.
Selamat Hari Jadi ke-67 Kabupaten Kotawaringin Barat.(Red)