0c9d4dc4-174c-4feb-81d8-07f3ba07af0c (1)

PALANGKA RAYA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi nasional, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku dan produk impor.

Pakar ekonomi Dr. Fitria Husnatarina mengatakan, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha yang menggunakan bahan baku dari luar negeri. Ketergantungan terhadap impor, baik untuk kebutuhan industri maupun konsumsi, membuat pelemahan rupiah berpengaruh langsung terhadap aktivitas ekonomi dalam negeri.

“Banyak sektor akan terdampak karena kita masih cukup bergantung pada impor, baik bahan mentah maupun produk jadi yang menjadi kebutuhan dalam proses produksi dan konsumsi masyarakat,” kata Fitria, Kamis (4/6/2026) melalui aplikasi pesan singkat.

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar juga berpotensi memengaruhi berbagai kewajiban ekonomi yang berkaitan dengan transaksi internasional. Karena itu, diperlukan langkah-langkah untuk memperkuat struktur ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Ia menilai penguatan pasar dalam negeri dapat menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan daya tahan ekonomi nasional. Saat ini, sejumlah kebutuhan masyarakat masih dipenuhi melalui produk impor, sehingga terdapat ruang untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

“Bahan baku yang kita miliki perlu diolah menjadi produk bernilai tambah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, Fitria mengingatkan bahwa peningkatan ekspor perlu diimbangi dengan ketersediaan pasokan untuk kebutuhan domestik.

“Ekspor penting untuk diperkuat, tetapi kebutuhan dalam negeri juga harus menjadi prioritas sehingga ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga,” tuturnya.

Terkait prospek nilai tukar rupiah, Fitria memperkirakan tekanan masih berpotensi terjadi di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi arus perdagangan serta investasi dunia.

“Berbagai negara saat ini masih berupaya menyesuaikan posisi dan kepentingan ekonominya masing-masing di tengah perubahan tatanan ekonomi dunia,” jelasnya.

Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat daya tahan ekonomi melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan industri pengolahan, serta pemanfaatan sumber daya domestik yang lebih optimal.

“Indonesia memiliki potensi besar dan posisi strategis dalam perekonomian global. Tantangannya adalah bagaimana memperkuat ekosistem ekonomi nasional dari hulu hingga hilir agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *