IMG-20260829-WA0409

PALANGKARAYA – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU, turun langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangka Raya. Bukan sekadar memantau, ia ikut memegang selang dan membantu petugas memadamkan api hingga malam hari.

Keterlibatan itu dilakukan sejak 26 Agustus 2026. Sepulang dari bandara, Prof. Salampak langsung menuju lokasi karhutla untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus bergabung bersama tim pemadam.

“Setibanya dari bandara pada 26 Agustus, saya langsung ikut mengawasi sekaligus membantu pemadaman api hingga malam sekitar pukul 22.00 WIB,” kata Prof. Salampak, Rabu (26/8/2026).

Di tengah proses pemadaman, tim menggunakan teknologi shabondama dengan memanfaatkan busa yang dicampurkan dalam proses pemadaman. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu membasahi area yang terbakar dan membuat penggunaan air menjadi lebih efektif.

Menurut Prof. Salampak, karakter lahan yang terbakar membuat proses pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan penyiraman pada permukaan. Area yang sudah terbakar tetap harus diperiksa karena panas yang tertinggal dapat memicu munculnya api kembali.

Sehari kemudian, Kamis (27/8/2026), Prof. Salampak kembali berada di lokasi. Ia bersama tim melakukan pemadaman sejak sore hingga sekitar pukul 22.30 WIB.

“Saya lumayan ikut memadamkan api selama satu jam dengan memegang selang,” ujarnya.

Aktivitas di lapangan membuat kondisi fisiknya terkuras. Setelah pemadaman, Prof. Salampak memilih beristirahat karena mengalami kelelahan dan flu berat.

Bagi Prof. Salampak, turun langsung ke lokasi membuatnya melihat dari dekat bagaimana petugas menghadapi karhutla. Api yang terlihat di permukaan bukan selalu menjadi satu-satunya persoalan karena panas masih dapat tersimpan di dalam lahan dan sewaktu-waktu memunculkan titik api baru.

Ia mengatakan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama, terutama ketika api berada di area yang cukup sulit dijangkau. Petugas harus terus memantau pergerakan api sekaligus memastikan bagian lahan yang telah dipadamkan tidak kembali terbakar.

“Pemadaman karhutla membutuhkan kerja sama, ketelitian, dan ketahanan fisik. Api harus benar-benar dikendalikan, termasuk memperhatikan bagian-bagian lahan yang masih berpotensi menimbulkan titik api,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi lahan yang kering membuat api dapat bergerak cepat. Karena itu, informasi mengenai kemunculan api menjadi penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.

Keterlibatan Rektor UPR di lapangan menjadi salah satu gambaran bagaimana penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur. Dari lokasi kebakaran, Prof. Salampak tidak hanya melihat proses pemadaman, tetapi ikut berada di barisan petugas hingga malam untuk membantu mengendalikan api.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *