IMG_20260829_145300

PALANGKA RAYA – Universitas Palangka Raya (UPR) bersama Shabondama Jepang mengembangkan teknologi konsentrat sabun ramah lingkungan yang digunakan sebagai campuran air untuk membantu proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk pada kawasan gambut.

Kepala UPA Gambut UPR, Dr. Adi Jaya, mengatakan konsentrat tersebut digunakan dengan mencampurkannya ke dalam air dengan konsentrasi sekitar satu persen. Dari sejumlah penggunaan di lapangan, campuran tersebut dinilai membantu proses pemadaman, termasuk ketika diterapkan pada kebakaran di lahan gambut.

“UPR saat ini bekerja sama dengan Shabondama Jepang dalam pengembangan dan penggunaan konsentrat sabun ramah lingkungan untuk pemadaman karhutla. Konsentrat tersebut dicampurkan dengan air pada konsentrasi sekitar satu persen dan berdasarkan pengalaman di lapangan terbukti efektif membantu proses pemadaman, termasuk pada kebakaran di lahan gambut,” kata Dr. Adi Jaya, Sabtu (29/8/26).

Menurut Adi, tantangan saat ini berada pada sisi produksi. Konsentrat yang digunakan masih diproduksi di Jepang sehingga kebutuhan untuk penggunaan di Indonesia harus melalui proses impor.

Produksi sabun cair tersebut membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Waktu tersebut belum memperhitungkan proses pengiriman dari Jepang ke Indonesia, sehingga penyediaan produk untuk kebutuhan di lapangan membutuhkan perencanaan.

UPR kini tengah mengupayakan pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) agar produk tersebut nantinya dapat diproduksi di dalam negeri. Dengan demikian, teknologi dan formulasi yang digunakan telah tersedia, sementara pengembangan berikutnya diarahkan pada sistem produksi dan penerapannya di Indonesia.

Di sisi lain, UPR juga melakukan evaluasi terhadap metode pencampuran konsentrat dengan air. Pengujian dilakukan untuk melihat kestabilan pencampuran sekaligus menjaga konsentrasi larutan tetap sesuai dengan kebutuhan pemadaman.

Ada dua metode yang telah digunakan. Metode pertama dilakukan dengan mencampurkan konsentrat ke dalam air yang berada di embung atau tempat penampungan. Setelah tercampur, air dipompa dan disemprotkan ke area yang terbakar.

Metode kedua menggunakan sistem inline. Air dari selang dicampurkan langsung dengan konsentrat yang berasal dari galon sebelum dialirkan menuju nozzle.

Sistem inline dinilai lebih praktis karena proses pencampuran berlangsung saat air dialirkan menuju lokasi pemadaman. Namun, hasil uji coba masih menemukan persoalan teknis berupa aliran balik air menuju galon konsentrat.

“Metode inline secara operasional lebih praktis dan berpotensi meningkatkan efisiensi pemadaman. Namun, dalam beberapa kali uji coba masih ditemukan kendala berupa aliran balik air ke dalam galon konsentrat sabun,” ujar Adi.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari evaluasi yang masih dilakukan UPR. Pengembangan diarahkan pada sistem pencampuran yang lebih stabil, pengaturan konsentrasi larutan, serta kemudahan pengoperasian ketika digunakan di lokasi kebakaran.

Selain penyempurnaan metode aplikasi, UPR juga mendorong agar konsentrat tersebut nantinya dapat diproduksi di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat memangkas ketergantungan terhadap produksi dan pengiriman dari Jepang.

Saat ini, pemenuhan SNI, pengembangan produksi dalam negeri, serta penyempurnaan sistem aplikasi menjadi tahapan yang sedang dikerjakan UPR dalam pengembangan teknologi tersebut untuk mendukung penanganan karhutla, termasuk pada lahan gambut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *