PALANGKA RAYA — Di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, perhatian publik tertuju pada aksi aktris sekaligus aktivis lingkungan Sherina Munaf yang memilih datang langsung ke lapangan.
Sherina tidak hadir dalam agenda seremonial. Ia justru terlihat berada di tengah situasi lapangan, mengenakan perlengkapan yang sesuai untuk aktivitas di lokasi terdampak karhutla.
Kehadirannya di Palangka Raya dan wilayah terdampak karhutla mendapat sorotan luas setelah sejumlah dokumentasi aktivitasnya beredar di media sosial. Sherina diketahui memberikan dukungan kepada para relawan dan tim penyelamatan satwa yang bekerja di tengah kondisi sulit akibat kebakaran dan asap.
Perhatian Sherina terutama diarahkan pada satwa liar yang ikut terdampak rusaknya habitat akibat kebakaran lahan gambut. Orangutan, rusa dan berbagai satwa lainnya menjadi bagian dari persoalan yang muncul ketika api meluas dan kawasan habitat mereka terbakar.
Tak hanya datang ke lapangan, Sherina juga mendorong masyarakat untuk ikut membantu melalui penggalangan dana. Dukungan tersebut diarahkan untuk kebutuhan penanganan darurat, termasuk perlengkapan bagi relawan serta kebutuhan evakuasi dan perawatan satwa terdampak.
Langkah Sherina kemudian mendapat respons positif dari warganet. Sejumlah komentar menilai kehadirannya memiliki pesan tersendiri karena dilakukan dengan cara sederhana dan langsung menyentuh persoalan di lapangan.

Di tengah situasi karhutla yang kembali menjadi perhatian di Kalteng, aksi tersebut juga berkembang menjadi perbincangan mengenai kepedulian publik dan sensitivitas para tokoh maupun figur yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat.
Sorotan terhadap Sherina bahkan muncul bersamaan dengan kritik netizen terhadap gaya hidup sebagian kalangan elite lokal yang dinilai tidak sejalan dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi dampak kabut asap.
Terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, kehadiran Sherina membawa satu isu yang kerap luput dalam pemberitaan karhutla: ketika hutan terbakar, bukan hanya manusia yang terdampak, tetapi juga satwa yang kehilangan habitatnya.
Aksi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap karhutla tidak selalu harus datang dalam bentuk pidato atau agenda resmi. Di lapangan, kepedulian dapat diwujudkan dengan hadir, membantu relawan, dan mengajak masyarakat ikut bergerak.(red)