PALANGKA RAYA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum berhenti meski jumlah kejadian mulai menurun. Pemerintah Provinsi Kalteng kini memperkuat langkah di lapangan, mulai dari pemadaman, pembangunan sumber air hingga bantuan bagi masyarakat yang terdampak asap dan kekeringan.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran meminta seluruh unsur tidak mengendurkan kewaspadaan. Hal itu disampaikannya saat memimpin Rapat Koordinasi Pemantauan Penanganan Karhutla di Aula Serba Guna Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Kamis (29/10/2026).
Bagi pemerintah daerah, penanganan karhutla tidak bisa hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Pencegahan, patroli, pengawasan lahan, penegakan aturan hingga perlindungan masyarakat harus berjalan bersamaan.
Data BPBD Kalteng hingga 28 Oktober 2026 mencatat masih terdapat 76 titik panas dan 26 kejadian karhutla, dengan luas lahan terbakar sekitar 43,93 hektare.
Secara kumulatif sejak awal tahun hingga 28 Oktober, tercatat 7.634 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 20.699 hektare. Penanganannya melibatkan 16.478 personel dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api hingga relawan.
Namun persoalan karhutla bukan hanya soal api.
Di sejumlah wilayah, dampak kekeringan dan asap ikut memukul kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, Pemprov Kalteng memperkuat dukungan air bersih dengan membangun lebih dari 600 sumur bor yang tersebar di berbagai wilayah.
Distribusi air bersih juga telah mencapai lebih dari 14 juta liter. Air tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat sekaligus mendukung operasi penanganan karhutla di lapangan.
Bantuan pangan juga disiapkan untuk lebih dari 450 ribu warga terdampak. Pemerintah turut menyalurkan obat-obatan, multivitamin dan masker untuk membantu masyarakat menghadapi dampak asap.
Para petugas dan relawan yang berada di garis depan juga mendapat dukungan operasional, termasuk konsumsi dan perlengkapan keselamatan. Relawan yang direkrut melalui pembiayaan APBD maupun belanja tidak terduga mendapatkan honorarium harian Rp150 ribu, ditambah dukungan operasional lainnya.
Agustiar menilai karakter wilayah Kalteng yang luas dan memiliki banyak kawasan gambut membuat penanganan karhutla membutuhkan strategi jangka panjang.
Karena itu, evaluasi terhadap tata ruang dan pemanfaatan lahan yang berulang kali terbakar juga menjadi perhatian. Pemerintah mendorong agar lahan yang tidak produktif dapat ditangani melalui kebijakan yang tepat tanpa mengabaikan perlindungan ekosistem gambut.
Penegakan hukum juga diminta diperkuat terhadap pihak yang terbukti melanggar aturan terkait kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, kondisi cuaca belum sepenuhnya menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Kepala BMKG Kalteng Agung Sudiono Abadi menyebut awal musim hujan berlangsung bertahap dan tidak merata.
Curah hujan diprakirakan meningkat pada November, sedangkan puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember hingga Januari. Namun, lahan gambut tetap memiliki potensi menyimpan bara di bawah permukaan meski api di atas tanah telah padam.
Artinya, hujan yang mulai datang bukan menjadi tanda bahwa persoalan selesai. Patroli, pembasahan lahan, pemantauan titik panas dan kesiapsiagaan personel tetap dibutuhkan.
Bagi pemerintah, pekerjaan berikutnya bukan hanya memastikan api padam, tetapi memastikan api tidak kembali muncul dan masyarakat yang terdampak tetap mendapatkan perlindungan.
Dengan ratusan sumur bor, jutaan liter air yang telah disalurkan, serta bantuan pangan dan kesehatan bagi ratusan ribu warga, penanganan karhutla Kalteng kini bergerak pada dua sisi sekaligus: memadamkan api dan menjaga masyarakat tetap bertahan di tengah dampaknya.