IMG_3192b628-3a40-423e-8b76-e7417a04ee37

PALANGKA RAYA – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut turut membawa perubahan pada kualitas udara, terutama dengan berkurangnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya menyebut kondisi tersebut belum menjadi tanda bahwa seluruh wilayah Kalteng telah memasuki musim penghujan.

Kepala BMKG Palangka Raya, Sugiyono, mengatakan sebagian besar wilayah Kalteng masih berada dalam fase transisi atau pancaroba menuju musim hujan.

“Sebetulnya secara resmi wilayah Kalteng belum seluruhnya masuk musim penghujan, melainkan masih berada dalam masa transisi atau pancaroba menuju musim hujan,” kata Sugiyono, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, hujan yang terjadi saat ini masih bersifat lokal dan sporadis. Durasi hujan juga belum berlangsung lama sehingga belum dapat disebut sebagai kondisi musim hujan yang telah merata di seluruh wilayah.

Meski demikian, kemunculan hujan di sejumlah daerah, termasuk Kota Palangka Raya, menjadi indikasi mulai menguatnya dinamika atmosfer menjelang pergantian musim.

“Hujan yang terjadi di beberapa wilayah Kalteng ini termasuk Kota Palangka Raya belakangan ini merupakan tanda menguatnya dinamika atmosfer menjelang pergantian musim,” ujarnya.

Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap penanganan karhutla. Guyuran hujan membantu menekan kemunculan titik panas atau hotspot sekaligus mengurangi kabut asap secara signifikan.

Meski begitu, Sugiyono mengingatkan bahwa hujan belum membuat seluruh hotspot hilang. Di sejumlah lokasi, titik panas masih berpotensi muncul sehingga kewaspadaan terhadap karhutla tetap diperlukan.

Di sisi lain, fase pancaroba juga membawa potensi cuaca ekstrem yang perlu diantisipasi masyarakat.

Sugiyono menjelaskan, pada masa transisi seperti sekarang, hujan lebat dapat turun secara tiba-tiba dan sporadis. Kondisi tersebut terkadang disertai tiupan angin kencang serta peningkatan aktivitas sambaran petir.

“Yang sering terjadi adalah hujan lebat yang turun mendadak secara sporadis disertai tiupan angin kencang yang berisiko menumbangkan pohon atau merusak atap rumah. Kemudian juga diikuti oleh intensitas sambaran petir yang meningkat,” jelasnya.

BMKG pun mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan faktor keselamatan ketika hujan mulai turun. Warga diminta menghindari berteduh di bawah pohon maupun berada di dekat tiang listrik saat terjadi hujan yang disertai angin dan petir.

Selain itu, masyarakat dianjurkan melakukan langkah antisipasi di lingkungan masing-masing. Pohon yang sudah tua, tinggi, dan rapuh dapat dirapikan untuk mengurangi risiko tumbang. Kondisi atap rumah yang kurang kuat juga perlu diperiksa sebelum cuaca buruk terjadi.

Saluran air menjadi perhatian lainnya. Masyarakat diminta membersihkan selokan dan drainase agar aliran air hujan tetap lancar sehingga potensi genangan maupun banjir dapat ditekan.

Dengan kondisi cuaca yang masih berada dalam fase pancaroba, masyarakat di Kalteng diharapkan tidak hanya memanfaatkan hujan sebagai kabar baik dalam meredakan karhutla, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat muncul secara tiba-tiba.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *