Palangka Raya — Upaya pencegahan radikalisme sejak usia dini menjadi perhatian serius Tim Densus 88 Antiteror Polda Kalimantan Tengah. Hal itu dibahas melalui forum diskusi santai bertajuk Ngopi Bareng Insan Pers yang digelar bersama jurnalis di Palangka Raya, Kamis (15/1/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) Kalimantan Tengah tersebut diinisiasi SPRI Kalteng dan dihadiri perwakilan organisasi kewartawanan serta insan pers dari berbagai media cetak maupun daring.
Ketua SPRI Kalteng, Muhamad Sidik, melalui Sekretaris SPRI Kalteng Rizaldi, menegaskan pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi menjadi ruang strategis untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi ancaman radikalisme di era digital.
“Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk seremoni, tetapi untuk membicarakan sebuah benteng. Di tengah derasnya arus informasi tanpa batas, paham-paham yang dapat memecah belah bangsa kerap masuk tanpa disadari, menyelinap melalui media sosial, ruang diskusi, bahkan lingkungan terdekat,” ujarnya.
Rizaldi menjelaskan, tema Menangkal Radikalisme Sedini Mungkin dengan materi deteksi dini serta strategi pencegahan di era digital menjadi panggilan mendesak bagi semua pihak, khususnya insan pers.
“Radikalisme bukan hanya soal tindakan, tetapi juga pola pikir. Karena itu, pencegahan sejak dini adalah langkah paling krusial. Tujuan kegiatan ini untuk mempertajam kepekaan kita dalam mendeteksi ancaman serta memperkuat literasi, agar pers tidak hanya menjadi penonton, melainkan garda terdepan menjaga keutuhan NKRI, khususnya di Bumi Tambun Bungai,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 Antiteror Polda Kalteng, Ganjar Satriyono, menyambut positif terselenggaranya diskusi tersebut. Menurutnya, peran media sangat penting dalam mendukung upaya pencegahan radikalisme di tengah masyarakat.
“Kami siap membantu mensosialisasikan langkah-langkah pencegahan terhadap paham radikalisme dan tindakan yang tidak selaras dengan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan,” ujar Ganjar.
Ia berharap sinergi antara aparat penegak hukum dan insan pers di Kalimantan Tengah terus terjalin secara berkelanjutan.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri. Karena itu, kami membutuhkan peran rekan-rekan media untuk menyosialisasikan bahaya radikalisme. NKRI adalah harga mati,” tegasnya.(Red/Poto Hairul)