Palangka Raya – Sudah puluhan hari berlalu sejak dugaan malpraktik terkait pemasangan IUD terjadi di salah satu rumah sakit di Kalimantan Tengah. Namun hingga kini, kejelasan atas kasus tersebut masih belum menemukan titik terang.
Di balik sunyinya penanganan kasus, tersimpan cerita pilu dari sebuah keluarga yang hidupnya berubah drastis.
Dalam wawancara eksklusif, suami pasien, Ado, menuturkan bagaimana hari-harinya kini dipenuhi ketidakpastian, rasa bersalah, dan perjuangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Istri saya belum pulih sepenuhnya. Perubahan fisik dan mentalnya sangat terasa. Yang paling menyakitkan, dia tidak bisa lagi menikmati masa-masa tumbuh kembang anak-anak kami,” ujarnya dengan suara tertahan, Rabu 25 Maret 2026 melalui aplikasi pesan singkat.
Kondisi itu bukan hanya berdampak pada sang istri, tetapi juga menjalar ke seluruh kehidupan keluarga. Bayi mereka kini harus mengonsumsi susu formula khusus karena alergi protein dengan harga yang tidak murah. Anak pertama mereka pun terpaksa berhenti dari sekolah khusus okupasi yang sebelumnya dijalani.
Sementara itu, kedua anak mereka kini diasuh oleh sang nenek yang sudah lanjut usia dan dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil. “Parenting, merawat, mendidik anak-anak semuanya jadi sulit kami jalankan untuk sementara ini,” katanya lirih.
Sebagai kepala keluarga, beban yang ia rasakan begitu berat baik secara emosional maupun ekonomi.
Ia mengaku kini tidak lagi bekerja dan terpaksa mengandalkan pinjaman online serta tabungan anak untuk bertahan hidup. Di sisi lain, usaha keluarga yang menopang lima pekerja tetap harus berjalan, meski kondisi sedang sepi.
“Saya merasa gagal sebagai ayah, sebagai anak, dan sebagai suami,” ucapnya.
Lebih dari sekadar persoalan pribadi, ia juga memikirkan orang tuanya yang kini harus menanggung beban tambahan merawat cucu-cucu mereka.
Meski begitu, ia tetap menyimpan harapan. Menurutnya, rumah sakit tempat kejadian adalah milik bersama dan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah. Ia tidak menyalahkan institusi secara keseluruhan, namun berharap oknum tenaga medis dapat bekerja sesuai standar operasional dan hati nurani.
“Saya hanya ingin ada tanggung jawab, ada keadilan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaannya karena selama 50 hari menjalani perawatan di rumah sakit, tidak ada satu pun pihak terkait yang datang menjenguk atau menunjukkan itikad baik, bahkan hingga mereka harus melanjutkan perawatan secara mandiri di rumah.
Namun di tengah luka yang dalam, ia memilih untuk memaafkan. “Secara hati nurani kami sudah memaafkan. Tapi tolong lihat kondisi ekonomi kami yang sangat terpuruk untuk bertahan lebih lama,” katanya.
Di balik semua itu, doa tetap menjadi pegangan. Ia berharap istrinya dapat sembuh total, kembali seperti sediakala, dan dapat kembali menjalani perannya sebagai ibu serta melanjutkan usaha keluarga.
Ketika ditanya tentang penyesalan terdalamnya, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan jujur.
“Menyesal pindah rumah sakit dan menyesal tidak punya cukup tabungan atau pengaruh.” ungkapnya.
Sebuah kalimat sederhana, namun menggambarkan luka yang begitu dalam.
Kini, di tengah ketidakjelasan yang masih menggantung, keluarga ini hanya bisa berharap bahwa keadilan tidak hanya menjadi janji, tetapi benar-benar hadir untuk mereka yang sedang berjuang dalam diam.(Red)