WhatsApp-Image-2026-04-10-at-20.19.09-1024x546

Tamiang Layang – Menjelang peringatan Hari Buruh, tensi di Barito Timur mulai terasa berbeda. Bukan karena lonjakan tuntutan pekerja, melainkan munculnya kewaspadaan terhadap dinamika yang lebih dalam—yang tak selalu terlihat di permukaan.

DPD TBBR Barito Timur memilih tidak berdiri sebagai penonton. Ketua DPD TBBR, Sande alias Pijun, secara terbuka menegaskan sikap: mereka siap mengawal jalannya May Day. Namun pengawalan yang dimaksud bukan sekadar menjaga barisan tetap rapi atau mencegah ricuh, melainkan membaca kemungkinan adanya “agenda lain” yang berpotensi menumpang di tengah euforia massa.

Pijun melihat, peringatan Hari Buruh kini tidak lagi steril dari tarik-menarik kepentingan. Di ruang yang seharusnya diisi solidaritas pekerja, ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyisipkan narasi di luar isu ketenagakerjaan termasuk paham yang berseberangan dengan nilai kebersamaan.

“May Day jangan sampai berubah arah. Kalau sudah ditunggangi kepentingan lain, yang dirugikan justru buruh itu sendiri,” tegasnya.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa peringatan Hari Buruh di daerah kini telah memasuki fase baru: bukan hanya soal perjuangan ekonomi, tapi juga kontestasi wacana di ruang publik. Dalam situasi seperti ini, garis antara aspirasi murni dan kepentingan terselubung menjadi semakin tipis.

TBBR membaca potensi itu sebagai sesuatu yang nyata, bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa momentum massa besar kerap menjadi titik masuk bagi narasi yang tidak selalu relevan dengan tujuan awal.

Karena itu, pendekatan yang mereka dorong bukan sekadar pengamanan fisik, melainkan juga “pengamanan makna”. Artinya, menjaga agar pesan yang muncul dalam peringatan May Day tetap berada dalam koridor perjuangan buruh, tanpa dibelokkan ke isu ideologis yang berpotensi memecah belah.

Di sisi lain, langkah ini juga memperlihatkan pergeseran peran organisasi kemasyarakatan. Mereka tidak lagi hanya bergerak di wilayah sosial, tetapi mulai aktif dalam menjaga stabilitas narasi publik. Dalam konteks ini, TBBR menempatkan diri sebagai semacam “filter sosial” di tengah derasnya arus informasi dan kepentingan.

Koordinasi lintas elemen pun menjadi kunci. TBBR mendorong komunikasi terbuka antara buruh, aparat, dan kelompok masyarakat lainnya untuk mencegah kesalahpahaman yang bisa berkembang menjadi konflik. Bagi mereka, potensi gesekan lebih mudah diredam sebelum membesar, dibanding diselesaikan setelah pecah di lapangan.

Dengan pendekatan ini, May Day di Barito Timur diharapkan tidak hanya berjalan aman secara fisik, tetapi juga tetap “bersih” secara substansi. Sebab di tengah meningkatnya sensitivitas isu sosial dan ideologi, menjaga arah gerakan menjadi sama pentingnya dengan menjaga ketertiban.

Pada akhirnya, peringatan Hari Buruh di Bartim tahun ini bukan hanya tentang tuntutan pekerja, tetapi juga tentang siapa yang mampu menjaga ruang publik tetap sehat dan siapa yang mencoba memanfaatkannya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *