IMG-20260528-WA0150

KOTAWARINGIN BARAT – Suasana Istana Kuning Kesultanan Kutaringin masih menyisakan ruang kosong setelah wafatnya Sultan Kutaringin ke-15, Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah. Hingga kini, belum ada sosok yang resmi ditetapkan sebagai penerus takhta kerajaan Melayu yang telah lama menjadi simbol budaya di Bumi Marunting Batu Aji tersebut.

Kepergian sang sultan meninggalkan satu fakta penting dalam dinamika suksesi: almarhum tidak memiliki putra mahkota laki-laki dan hanya meninggalkan seorang putri tunggal, Raden Ayu Sri Rahayu Kurniasih. Situasi ini membuat perhatian publik mengarah pada jalur keluarga laki-laki terdekat dalam garis keturunan Kesultanan Kutaringin.

Di tengah berbagai pembicaraan yang berkembang, nama Pangeran Arsyadinsyah mencuat sebagai figur yang paling banyak diperbincangkan. Sebagai adik laki-laki tertua almarhum yang masih hidup, ia dinilai memiliki posisi kuat dalam mata rantai pewarisan adat kesultanan. Tradisi Melayu Nusantara sendiri mengenal pola suksesi yang memungkinkan saudara laki-laki sultan naik takhta ketika tidak ada putra laki-laki sebagai penerus langsung.

Namun jalan menuju penobatan tidak sepenuhnya sederhana. Penentuan Sultan Kutaringin ke-16 tetap bergantung pada hasil musyawarah keluarga besar kesultanan bersama Dewan Adat yang memiliki otoritas dalam menjaga marwah dan kesinambungan adat istiadat kerajaan.

Selain Pangeran Arsyadinsyah, keluarga besar Kesultanan Kutaringin juga masih memiliki tokoh laki-laki lain, yakni H. Ir. Pangeran Nurarudinsyah. Keduanya merupakan bagian dari putra-putri Sultan Kutaringin ke-14 bersama empat saudara perempuan lainnya.

Di masyarakat, kabar mengenai rencana penobatan Sultan Kutaringin ke-16 pada Juni 2026 mulai ramai diperbincangkan. Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak kesultanan maupun Dewan Adat, isu tersebut memunculkan harapan agar proses pergantian kepemimpinan berjalan tanpa gejolak.

Bagi masyarakat Kotawaringin Barat, keberadaan Kesultanan Kutaringin bukan sekadar simbol sejarah, melainkan juga penyangga identitas budaya Melayu yang masih hidup hingga hari ini. Karena itu, siapa pun yang nantinya duduk di singgasana Istana Kuning diharapkan mampu menjaga warisan adat, merawat persatuan keluarga besar kesultanan, dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *