WhatsApp Image 2026-04-21 at 10.10.23


PALANGKA RAYA – Pelaksanaan UTBK SNBT 2026 resmi dimulai, dan Universitas Palangka Raya langsung dihadapkan pada lonjakan peserta yang signifikan. Sebanyak 4.519 peserta tercatat mengikuti ujian di kampus ini, dengan dominasi kuat peserta asal Kalimantan Tengah.

Angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi mencerminkan tingginya tekanan persaingan untuk menembus perguruan tinggi negeri. Dari total peserta, lebih dari 98 persen berasal dari dalam provinsi menandakan bahwa UPR masih menjadi tujuan utama bagi lulusan SMA/SMK di daerah.

Ketua Panitia UTBK UPR 2026, Natalina Asi, memastikan kesiapan teknis telah dimaksimalkan. Sepuluh ruang ujian disiapkan di empat titik berbeda, termasuk fasilitas berbasis teknologi yang menjadi kunci kelancaran sistem ujian berbasis komputer.

“Kami tidak hanya menyiapkan ruang dan perangkat, tapi juga skenario mitigasi jika terjadi kendala teknis. Ini penting karena ujian berlangsung dalam beberapa sesi hingga awal Mei,” ujarnya.

Di sisi lain, Rektor UPR Salampak menegaskan bahwa UTBK bukan sekadar tes akademik biasa, melainkan titik penentu dalam sistem Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru yang semakin kompetitif dan terstandar.

Menurutnya, integritas pelaksanaan menjadi taruhan utama. Di tengah digitalisasi sistem seleksi, potensi kecurangan harus ditekan seminimal mungkin agar hasil benar-benar mencerminkan kemampuan peserta.

“UTBK ini mengukur kemampuan kognitif dan penalaran secara objektif. Karena itu, pelaksanaannya harus dijaga dengan prinsip kejujuran dan profesionalisme,” tegasnya.

Menariknya, sebelum jalur tes ini dibuka, UPR sudah lebih dulu menerima 1.293 mahasiswa melalui jalur SNBP. Mayoritas penerima berasal dari sekolah di Kalimantan Tengah, memperlihatkan pola yang konsisten: akses pendidikan tinggi di daerah masih sangat bergantung pada institusi lokal.

Namun, peluang belum tertutup. Rektor juga mengumumkan bahwa jalur mandiri melalui SMMPTN-Barat 2026 akan segera dibuka awal Mei. Jalur ini diprediksi kembali menjadi “kesempatan terakhir” bagi ribuan peserta yang gagal di dua seleksi sebelumnya.

Dengan sistem seleksi yang semakin berlapis, realitasnya jelas: masuk perguruan tinggi negeri kini bukan hanya soal pintar, tetapi juga soal strategi, kesiapan mental, dan kemampuan bersaing dalam sistem yang semakin ketat.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *