IMG_20260612_221604

Palangka Raya – Menjelang sore, suara khas peluit kukusan kue putu terdengar di kawasan Jalan Rajawali Induk, Palangka Raya. Bagi warga sekitar, suara itu menjadi penanda bahwa Pa Yando telah tiba dengan sepeda ontel tuanya, membawa jajanan tradisional yang telah menjadi langganan banyak orang.

Di balik aroma pandan dan gula merah yang mengepul, tersimpan kisah perjuangan seorang perantau asal Brebes, Jawa Tengah, yang sejak 2006 mengandalkan kue putu untuk menghidupi keluarganya.

Kepada Warta Kalteng, Pa Yando mengisahkan awal perjalanannya berjualan. Saat itu, ia menggunakan sepeda ontel warisan sang kakek sebagai alat mencari nafkah. Hampir 20 tahun berlalu, sepeda yang sama masih setia mengantarnya berkeliling.

“Sepeda ini peninggalan kakek. Dari mulai jualan tahun 2006 sampai sekarang masih saya pakai. Sudah seperti teman mencari rezeki,” ujarnya pada Jumat 12/6/26.

Sepeda tua itu menjadi saksi perjalanan hidupnya. Setiap sore, ia mengayuh perlahan menuju Jalan Rajawali Induk, membawa kukusan yang mengeluarkan suara khas sekaligus aroma kue putu yang menggugah selera.

Perjuangan yang dijalani dari hari ke hari akhirnya membuahkan hasil. Dari usaha sederhana itu, Pa Yando berhasil membesarkan tiga orang anak dan menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.

“Saya tidak pernah berpikir usaha ini bisa membawa anak-anak kuliah. Yang penting setiap hari berusaha dan tidak menyerah. Alhamdulillah, sekarang salah satu anak sudah menjadi PNS di Buntok,” tuturnya.

Kebahagiaan itu menjadi hadiah terbesar bagi seorang ayah yang selama bertahun-tahun mengandalkan kue putu sebagai sumber penghidupan keluarga.

Meski zaman terus berubah dan berbagai jajanan modern bermunculan, kue putu buatan Pa Yando tetap menjadi favorit masyarakat. Setiap sore, pembeli datang silih berganti, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang sudah akrab dengan cita rasa kue putunya.

“Alhamdulillah, setiap hari selalu ada pelanggan. Banyak yang sudah langganan bertahun-tahun, bahkan ada yang sengaja datang karena kangen rasa kue putu ini,” katanya.

Di tengah hiruk pikuk kota, Pa Yando memilih tetap setia pada resep tradisional dan sepeda ontel warisan keluarganya. Baginya, kesederhanaan bukan penghalang untuk meraih mimpi.

Dari sebuah sepeda tua dan kukusan yang tak pernah berhenti mengepul, Pa Yando membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengantarkan seorang ayah mengubah masa depan keluarganya satu potong kue putu dalam setiap kayuhan sepedanya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *