PALANGKA RAYA – Dari tanaman kembang sepatu yang tumbuh di lingkungan masyarakat hingga panggung kompetisi internasional. Perjalanan Raisya Arina Zaidan, siswa SMAN 2 Palangka Raya, menunjukkan bagaimana ide yang berangkat dari hal sederhana dapat berkembang menjadi sebuah penelitian dan membawanya tampil di berbagai forum internasional.
Raisya baru saja menorehkan prestasi dengan meraih Silver Medal pada ajang 8th International Science and Invention Fair (ISIF) 2026) yang berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, pada 12–17 Oktober 2026.
Dalam kompetisi tersebut, Raisya mengangkat penelitian berjudul “From Local Wisdom to Scientific Evidence: Validation of Hibiscus rosa-sinensis as a Natural First-Aid Treatment for Fever.”
Penelitian itu berangkat dari pemanfaatan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) yang selama ini dikenal dalam pengetahuan masyarakat. Raisya kemudian mencoba membawa pengetahuan tersebut ke dalam pendekatan ilmiah dengan menguji potensi kembang sepatu sebagai bahan alami untuk pertolongan pertama dalam penanganan demam.
Gagasan yang berangkat dari lingkungan sekitar itu kemudian dibawa ke arena ISIF 2026, ajang yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara. Tahun ini, kompetisi tersebut diikuti 1.562 tim dari 25 negara.
Di tengah persaingan tersebut, penelitian Raisya berhasil memperoleh medali perak.
Namun, perjalanan Raisya di dunia internasional tidak berhenti di Depok. Sebelumnya, ia juga terlibat dalam Bali International Science Fair (BISF) 2026 di Denpasar, Bali.
Dalam ajang tersebut, Raisya tidak hanya hadir sebagai bagian dari tim penelitian. Ia bersama siswa SMAN 2 Palangka Raya lainnya juga mendapat kesempatan tampil dalam seremoni pembukaan dengan membawakan Tari Bahalai, kesenian yang merepresentasikan budaya Kalimantan Tengah.
Di Bali, Raisya seolah membawa dua cerita sekaligus. Di satu sisi, ia hadir dengan gagasan dan penelitian yang berangkat dari lingkungan lokal. Di sisi lain, ia ikut memperkenalkan budaya Kalteng melalui seni tari di hadapan peserta dari berbagai daerah dan negara.
Pada BISF 2026, Raisya juga menjadi bagian dari tim penelitian “Is ‘Life After Graduate’ Phenomenon Real for High School Student? A Descriptive Study” yang berhasil meraih Silver Medal.
Dua pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari perjalanan seorang pelajar. Riset dan budaya tidak harus berjalan di ruang yang berbeda. Keduanya dapat menjadi cara bagi generasi muda untuk memperkenalkan daerah asalnya melalui jalur yang berbeda.
Kini, nama Raisya kembali tercatat dalam daftar siswa SMAN 2 Palangka Raya yang membawa gagasan lokal ke panggung yang lebih luas.
Jika di Bali ia ikut membawa Tari Bahalai ke panggung internasional, di Universitas Indonesia ia membawa kembang sepatu ke meja penilaian para juri kompetisi sains.
Dari tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat hingga panggung dunia, perjalanan Raisya menunjukkan bahwa sebuah ide tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, penelitian justru lahir dari sesuatu yang sudah begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.