IMG_20261002_002827

PALANGKA RAYA – Tidak semua mimpi masa kecil membawa seseorang ke tempat yang dibayangkan. Ada mimpi yang berubah arah, tetapi justru menemukan jalannya sendiri.

Begitulah perjalanan Prof. Bhayu Rhama. Pria kelahiran Jombang, 5 Januari 1979, itu pernah menyimpan cita-cita sederhana sekaligus tinggi: menjadi seorang astronot. Bahkan, ketertarikannya pada dunia teknologi dan sains sempat membawanya ingin menekuni Teknik Nuklir.

Namun kehidupan punya cerita lain.Langkahnya kemudian membawa Bhayu merantau ke Solo untuk menempuh pendidikan. Jarak dari kampung halaman membuatnya belajar satu hal penting sejak muda: hidup tidak selalu tentang berada di tempat yang nyaman, tetapi tentang kemampuan beradaptasi, mengenal orang lain, dan terus berjalan meski arah belum sepenuhnya terlihat.

Perjalanan itu akhirnya mempertemukannya dengan dunia akademik.Di Universitas Palangka Raya (UPR), nama Bhayu perlahan tumbuh bersama perjalanan kampus. Ia tidak hanya berada di ruang kuliah dan penelitian, tetapi juga dipercaya memikul tanggung jawab sebagai pengelola perguruan tinggi hingga menjadi Dekan FISIP UPR.

Di tengah perjalanan akademiknya, Bhayu juga menemukan bidang yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas keilmuannya, yakni pariwisata dan ekowisata.

Ia menaruh perhatian pada bagaimana kekayaan alam Kalimantan Tengah tidak hanya dipandang sebagai bentang hutan dan sungai, tetapi juga sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Pada 6 Februari 2025, perjalanan panjang itu mencapai salah satu titik penting. Bhayu dikukuhkan sebagai Guru Besar UPR dalam bidang Ilmu Pariwisata.

Namun gelar profesor bukanlah garis akhir.Justru setelah itu, tanggung jawabnya semakin besar.

Dan kini, perjalanan tersebut membawanya ke babak yang sama sekali berbeda. Pada 1 Oktober 2026, Bhayu terpilih sebagai Rektor Universitas Palangka Raya periode 2026–2030. Dalam pemilihan tersebut, ia memperoleh 37 suara dari total 63 suara berbobot.

Di balik angka itu ada sebuah amanah besar: memimpin kampus yang menjadi tempat ribuan mahasiswa menggantungkan mimpi dan masa depan.

Menariknya, setelah dinyatakan terpilih, Bhayu tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk berdiri sendiri. Ia justru berbicara tentang kebersamaan.

“UPR adalah rumah bersama. Teman-teman yang belum terpilih akan kita rangkul semua untuk menjadi satu dalam keluarga besar UPR.”

Kalimat tersebut terasa sederhana. Tetapi di situlah sisi lain Bhayu terlihat. Sebab menjadi rektor bukan hanya soal berada di kursi tertinggi sebuah universitas. Ada mahasiswa yang membutuhkan ruang untuk tumbuh, dosen yang ingin karyanya dihargai, tenaga kependidikan yang bekerja di balik layar, serta alumni yang berharap almamaternya terus melangkah maju.

Barangkali perjalanan Bhayu sejak kecil memang tidak pernah benar-benar lurus.

Dari Jombang, merantau ke Solo, pernah bermimpi menembus angkasa, kemudian memilih jalan akademik, menjadi dosen, peneliti, dekan, guru besar, hingga akhirnya dipercaya memimpin UPR.

Mimpi menjadi astronot mungkin tidak pernah terwujud.Tetapi ada mimpi lain yang kemudian tumbuh: mengabdi melalui pendidikan.

Kini, Prof. Bhayu Rhama memiliki ruang yang jauh lebih besar untuk mewujudkan mimpi itu.

Bukan lagi untuk dirinya sendiri.Melainkan untuk sebuah universitas, untuk para mahasiswa yang sedang mencari masa depan, dan untuk UPR yang akan memasuki babak baru di bawah kepemimpinannya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *