PALANGKA RAYA – Kabut asap masih menyelimuti Kota Palangka Raya hingga Jumat (2/10/2026). Kondisi tersebut membuat jarak pandang menurun drastis, bahkan dilaporkan hanya sekitar 250 meter pada pukul 14.30 WIB.
Di saat yang sama, konsentrasi partikulat tercatat mencapai sekitar 260 µg/m³ atau berada pada kategori kualitas udara berbahaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa asap masih cukup pekat di sejumlah wilayah.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Chandra Mukti, mengatakan hujan yang turun pada Kamis (1/10/2026) malam belum mampu membersihkan kabut asap secara menyeluruh. Hujan tersebut bersifat lokal dan hanya terjadi di beberapa wilayah, salah satunya sekitar Kecamatan Jekan Raya.
“Kemarin malam hujan lokal saja, di sekitar wilayah Kecamatan Jekan Raya,” ujar Chandra saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).
Menurut Chandra, dalam sepekan ke depan peluang hujan di Kalimantan Tengah masih didominasi hujan lokal. Belum terlihat pola hujan yang turun secara persisten dan merata di seluruh wilayah.
“Potensinya hanya hujan lokal saja,” katanya.
Kondisi tersebut membuat kabut asap masih berpotensi bertahan, terutama ketika hujan belum turun secara merata. BMKG memperkirakan musim hujan di Kalteng baru akan mulai lebih terasa pada akhir Oktober hingga awal November.
Di tengah kondisi tersebut, akumulasi titik panas yang terdeteksi mencapai 4.196 titik. Keberadaan hotspot tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan munculnya asap di sejumlah wilayah.
Chandra juga mengingatkan bahwa hujan lokal yang berpotensi terjadi tidak selalu berlangsung lama. Bahkan, sebagian wilayah dapat mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu singkat.
Kondisi itu perlu diantisipasi karena hujan deras dalam durasi singkat dapat memicu genangan maupun dampak hidrometeorologi lainnya.
Sementara itu, dengan jarak pandang yang hanya sekitar 250 meter, aktivitas masyarakat dan pengguna jalan turut terdampak. Kondisi visibilitas rendah membuat perjalanan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi, terutama pada ruas jalan yang dipenuhi kabut asap.
BMKG meminta masyarakat terus mengikuti perkembangan cuaca dan kualitas udara, termasuk memantau potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan Tengah.
“Kami minta masyarakat agar terus memantau perkembangan cuaca, kualitas udara, serta potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Kalteng,” pungkas Chandra.