IMG_e26012c7-3bef-49bf-afc5-a9b6d9be4390

PALANGKA RAYA – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Palangka Raya sejak Jumat sore hingga dini hari menjadi sinyal positif di tengah kondisi kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kalimantan Tengah.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Sugiyono, mengatakan hujan tersebut salah satunya merupakan hasil dari pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Hujan sejak Jumat sore dan dini hari tadi di wilayah Palangka Raya adalah salah satu keberhasilan dari OMC,” ujar Sugiyono, Jumat (16/10/2026) pagi.

Upaya penyemaian awan juga masih dilanjutkan. Pada Jumat pagi, sortie OMC kembali dilakukan dengan menyasar wilayah Pulang Pisau dan Palangka Raya.

Sugiyono menjelaskan, pelaksanaan OMC dilakukan dengan memanfaatkan pertumbuhan awan konvektif yang cukup banyak di sekitar wilayah sasaran.

“Karena kebetulan banyak tumbuh awan konvektif di sekitar wilayah tersebut untuk dilakukan semai OMC,” katanya.

Ia berharap penyemaian awan tersebut kembali menghasilkan hujan sehingga dapat membantu meningkatkan curah hujan di wilayah yang masih membutuhkan, sekaligus memberikan dampak terhadap kondisi karhutla.

Di sisi lain, BMKG memperkirakan musim hujan di Kalimantan Tengah mulai masuk secara bertahap pada pertengahan Oktober hingga November 2026. Waktunya berbeda-beda di setiap wilayah.

Untuk Kalteng bagian utama, musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada pekan ketiga Oktober. Sementara Kalteng bagian tengah diperkirakan memasuki musim hujan pada awal November, sedangkan wilayah selatan sekitar pertengahan November.

Namun, fenomena El Nino turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola musim tahun ini.

“Berdasarkan data, El Nino akan luruh sampai awal tahun. Tapi karena bersamaan dengan datangnya musim hujan, maka yang dirasakan adalah awal musim hujan mundur dan masa musim hujan lebih pendek,” pungkas Sugiyono.

Dengan kondisi tersebut, datangnya hujan tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Kalteng langsung memasuki musim penghujan. Peralihan musim berlangsung bertahap dan tetap dipengaruhi dinamika atmosfer.

BMKG memperkirakan puncak musim hujan di Kalimantan Tengah terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir pun menjadi perkembangan yang dinantikan, terutama setelah Kalteng menghadapi periode panjang dengan ancaman karhutla dan kualitas udara yang terdampak asap.

Dengan musim hujan yang diperkirakan lebih pendek, peluang hujan yang datang sejak Oktober ini menjadi penting untuk dimanfaatkan dalam upaya menekan risiko karhutla sekaligus memulihkan kondisi lingkungan yang terdampak kekeringan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *