WhatsApp Image 2026-04-30 at 19.12.54

PALANGKA RAYA – Peringatan Hari Buruh tahun ini di Kalimantan Tengah tampak mengambil jalur yang berbeda. Alih-alih menumpuk massa di jalanan, serikat pekerja memilih memindahkan energi protes ke ruang yang lebih terukur: dialog, layanan sosial, dan konsolidasi internal.

Ketua Panitia May Day Kalimantan Tengah, Bush Valentino Lambung, memberi sinyal bahwa sikap kritis terhadap pemerintah tidak ditinggalkan, tetapi cara menyampaikannya sedang diubah. Kritik, menurutnya, tetap perlu namun tidak harus selalu hadir dalam bentuk tekanan jalanan yang masif.

“Ruang menyampaikan pendapat tetap ada. Tapi sekarang bagaimana itu disalurkan dengan cara yang lebih berdampak dan tidak memicu gesekan,” ujarnya.

Format kegiatan yang disiapkan mencerminkan pendekatan tersebut. Pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, hingga senam bersama dipilih bukan sekadar seremoni, tetapi sebagai cara membangun kedekatan antara buruh dan masyarakat. May Day tidak lagi semata soal tuntutan, melainkan juga soal citra dan posisi buruh di ruang publik.

Di sisi lain, isu klasik belum benar-benar bergeser. Soal kesejahteraan, terutama penyesuaian upah dan kepastian regulasi seperti perlindungan pekerja rumah tangga, tetap menjadi bahan tekan. Hanya saja, kali ini dibungkus dalam pendekatan yang lebih lunak setidaknya di permukaan.

Panitia juga menyinggung ironi yang kerap muncul tiap tahun: peluang kerja yang disebut masih terbuka, tetapi tidak selalu sejalan dengan ekspektasi upah dan perlindungan tenaga kerja. Di titik ini, buruh mencoba mengambil posisi ganda sebagai pihak yang menuntut, sekaligus mitra yang menawarkan solusi.

Valentino bahkan mengakui adanya ruang yang kini diberikan pemerintah daerah untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Namun, ruang itu juga menjadi ujian: apakah dialog benar-benar menghasilkan perubahan, atau sekadar menjadi katup pengaman agar tekanan tidak meluas ke jalan.

May Day di Kalimantan Tengah tahun ini pada akhirnya bukan soal seberapa besar massa yang turun, tetapi seberapa jauh suara buruh bisa tetap terdengar tanpa harus berteriak keras.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *